Pedagang Pasar Pramuka Merana di Tengah Larangan Jual Obat Sirup

ADVERTISEMENT

Pedagang Pasar Pramuka Merana di Tengah Larangan Jual Obat Sirup

Danang Sugianto - detikFinance
Senin, 24 Okt 2022 07:00 WIB
Pedagang obat-obatan di Pasar Pramuka, Jakarta Timur mengaku rugi ratusan juta imbas larangan obat sirup. Mereka sudah terlanjur beli produk dalam jumlah banyak.
Pasar Pramuka. Foto: A.Prasetia/detikcom
Jakarta -

Para pedagang farmasi di Pasar Pramuka mengungkapkan keluh kesahnya yang terimbas maraknya kasus gagal ginjal akut. Obat sirup yang dianggap menjadi biang kerok kasus tersebut membuat para pedagang ikut merana.

Ketua Harian Himpunan Pedagang Farmasi Pasar Pramuka Yoyon memastikan bahwa para pedagang farmasi di Pasar Pramuka tidak lagi memajang 5 obat sirup di etalase mereka. Kelima obat tersebut merupakan daftar obat sirup yang dirilis oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) RI yang diduga mengandung cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG).

Daftar 5 obat tersebut dikeluarkan oleh BPOM yang terdiri dari Termorex Sirup, Flurin DMP Sirup, Unibebi Cough Sirup, Unibebi Demam Sirup dan Unibebi Demam Drops.

"Sudah fix nggak ada lagi, itu dikembalikan. Kalau ada pun sudah kita simpan, menunggu dari pihak produsen untuk mengambilnya. Jadi sudah kita turunkan dari pajangan kita," tegasnya saat dihubungi detikcom.

Dia menjelaskan penarikan 5 obat sirup tersebut tidak membuat rugi para pedagang. Sebab produsen melakukan penarikan dengan mengembalikan uang yang sudah dibayarkan oleh pedagang.

Namun para pedagang di Pasar Pramuka masih menjual beberapa obat sirup di luar 5 obat tersebut. Akan tetapi obat-obat berjenis sirup itu tidak laku terjual sama sekali.

"Kalau selain dari 5 itu, masih ada kita jual lah. Kita kan berpatokannya BPOM. Kalau sampai kemarin si nggak ada yang beli ya," tukasnya.

Yoyon mengaku penjualan dari obat sirup bagi pedagang di Pasar Pramuka sudah anjlok hingga 95%. Penurunan itu terjadi sejak ada kabar maraknya anak kecil terkena penyakit gagal ginjal akut yang diduga akibat obat sirup.

"Anjloknya sudah sampai 95%. Tapi kalau kita sih nggak ada masalah, tinggal kita kembalikan ke produsen. Tapi penjualan kita pasti turun dan kita nggak dapat keuntungan," terangnya.

Oleh karena itu Yoyon yang mewakili para pedagang farmasi di Pasar Pramuka berharap adanya kejelasan dari pemerintah. Diharapkan Kementerian Kesehatan dan BPOM berkoordinasi dengan baik dalam mengumumkan mana-mana saja obat sirup yang diduga tercemar EG dan DEG.

"Maka itu kita pedagang di sini meminta kejelasan dari pemerintah, terutama dari Menteri Kesehatan. Ini yang mengumumkan ini Menkes atau BPOM, biar nggak rancu," tegasnya.

Jika saja sudah ada ketegasan dalam hal itu, pemerintah diharapkan bisa memberikan ketegasan kepada produsen obat untuk menarik produknya. Dengan begitu para pedagang bisa terhindar dari kerugian.

Sebab jika produsen menarik obat sirup dari peredaran maka uang dari pedagang yang sudah dikeluarkan bisa dikembalikan. Namun jika kondisi obat sudah expired maka produsen tidak akan mengembalikan uang para pedagang.

(das/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT