Ini Dia Pemilik Brand Pakaian Erigo yang Medsosnya Diserang Netizen

ADVERTISEMENT

Ini Dia Pemilik Brand Pakaian Erigo yang Medsosnya Diserang Netizen

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Jumat, 04 Nov 2022 14:15 WIB
Aplikasi mobile Erigo
Erigo/Foto: Muhammad Alif Goenawan/detikINET
Jakarta -

Nama brand Erigo disebut-sebut ikut terseret isu mengenai adanya brand lokal yang diduga memaksa lebih dari 30 karyawan untuk mengundurkan diri atau ganti rugi kurang lebih Rp 30 juta/orang. Ironisnya lagi, pegawai yang mengundurkan diri tidak digaji dalam kerjanya di 1 bulan terakhir.

Gara-gara isu itu, akun Instagram Erigo @erigostore juga ramai diserbu netizen. Mereka beramai-ramai mengomentari unggahan reels terakhir merek lokal tersebut.

Isi komentarnya pun beragam, kebanyakan mengkritisi langkah perusahaan dalam meminta karyawannya ganti rugi Rp 30 juta atau resign. Mereka juga mengaitkannya dengan keberangkatan rombongan Erigo ke New York.

Namun terlepas dari isu tersebut, diketahui Eigo merupakan salah satu brand dalam negeri yang cukup terkenal. Apalagi Erigo berhasil tampil di New York Fashion Week beberapa waktu lalu.

Founder dan CEO Erigo adalah Muhammad Sadad. Sementara itu melansir dari CNBC Indonesia, CEO Erigo Muhammad Sadad mengungkapkan caranya membangun Erigo tidak dengan cara yang instan.

Perjalanannya di industri pakaian dimulai sejak tahun 2011 dari sebuah studio kamar salah satu apartemen di wilayah Depok, tanpa karyawan atau tim satu pun.

Tahun 2013 dikisahkan Sadad menjadi awal mula dirinya melahirkan nama Erigo sebagai sebuah identitas brand bisnis fashion-nya hingga kini bisa menjadi UMKM inspiratif yang naik kelas.

Sadad mengaku awalnya Erigo mengusung konsep bertemakan batik dan ikat pada produk-produknya. Akan tetapi, setelah satu tahun perjalanan, Sadad merombak brand identity-nya menjadi tema casual fashion yang dipertahankan hingga saat ini.

Ia mengakui keputusan tersebut dipilih mengingat tren fashion yang terus bergerak dengan cepat, ditambah banyaknya persaingan yang semakin kuat.

Kendati harus berganti, Sadad mengaku perubahan tersebut membuat brand DNA Erigo semakin kuat dan dikenal sebagai brand lokal dengan produk casual hingga saat ini.

Ia pun menceritakan berbagai upaya yang dilakukan Erigo untuk memperluas jangkauan pasar. Dimulai dari meluncurkan online webstore bersamaan dengan peluncuran Erigo di tahun 2013, serta memberanikan diri untuk mulai ikut berpartisipasi pada acara-acara offline, salah satunya JakCloth di pertengahan 2013.

Sadad mengaku selalu turut andil dan terjun langsung pada setiap strategi penjualan Erigo, bahkan pernah tidur di musala mal hingga mandi di pom bensin selama mengikuti JakCloth. Hal ini diakuinya dilakukan sebagai upaya meminimalisir pengeluaran.

Mengikuti perkembangan zaman, Sadad terus mengembangkan bisnisnya dengan bergerak menggunakan platform e-commerce sebagai salah satu kanal penjualan. Di tahun 2017, Erigo bergabung dengan Shopee.

Diakui oleh Sadad, penjualan produk-produk Erigo meningkat secara signifikan setelah bergabung dengan Shopee. Bahkan, pada 2020 lalu Erigo berhasil mencatat peningkatan penjualan hingga lebih dari 10 kali lipat dibandingkan dengan tahun 2019. Tak hanya berjaya di dalam negeri, Sadad mengaku produknya juga mendapat permintaan tinggi dari luar negeri.

Ia menjelaskan, Erigo mulai bergabung ke program ekspor Shopee di tahun 2020 dan saat ini produk-produknya sudah bisa dibeli di negara-negara seperti Malaysia, Singapura, Filipina, dan Thailand. Saat ini ada 7 toko Erigo yang telah mengikuti program ekspor ini termasuk dengan authorized store Erigo.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT