Penduduk di Asia Dihantui Jebakan 'Tua Sebelum Kaya', Orang RI Kena?

ADVERTISEMENT

Penduduk di Asia Dihantui Jebakan 'Tua Sebelum Kaya', Orang RI Kena?

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Jumat, 04 Nov 2022 15:48 WIB
Haiti menjadi sorotan dunia usai presidennya tewas terbunuh. Kemiskinan dan konflik politik yang tak berkesudahan masih menjadi momok.
Foto: AP/Matias Delacroix
Jakarta -

Riset baru Credit Suisse menunjukkan adanya ancaman tua sebelum menjadi kaya di Asia. Artinya, seseorang akan tetap miskin dan belum makmur di hari tuanya.

Co-Head of Asia Pacific Strategy and India Equity Strategist, Securities Research Credit Suisse Neelkanth Mishra menyatakan ancaman tua sebelum kaya ini terjadi karena pendapatan per kapita banyak negara di Asia sangatlah kecil. Sementara itu penduduknya mayoritas sudah memasuki usia rata-rata produktif.

"Sebagian besar negara Asia terlihat untuk usia rata-rata tertentu pendapatan per kapita mereka berada di sisi yang rendah," ungkap Neelkanth dalam sebuah webinar, Jumat (4/11/2022).

Menurutnya masyarakat di Thailand dan China sudah masuk ke dalam jebakan ancaman tua sebelum kaya. Pasalnya dua negara tersebut penduduknya rata-rata sudah berada hampir di atas usia produktif. Sementara itu, pendapatan per kapitanya masih rendah.

Nah yang mengejutkan ternyata Indonesia pun berpotensi juga terjebak ancaman tua sebelum kaya. Hal ini terjadi apabila pendapatan per kapita Indonesia masih terus rendah sedangkan usia rata-rata penduduknya makin menua.

"Risiko ini juga bisa terjadi bagi Indonesia, Filipina, India, dan mungkin Vietnam. Masih ada ruang untuk menumbuhkan ekonomi 10-20 tahun ke depan di negara tersebut," ungkap Neelkanth.

Credit Suisse juga menemukan dalam sepuluh tahun hingga 2019 negara-negara Asia memiliki pertumbuhan ekonomi dua hingga tiga kali lebih cepat dibandingkan negara Uni Eropa dan Amerika Serikat.

Ekonomi sepuluh negara di Asia yakni China, India, Indonesia, Jepang, Filipina, Vietnam, Thailand, Korea Selatan, Malaysia, dan Taiwan merupakan 50% dari PDB global. Kemudian, 10 negara ini juga memasok modal US$ 5 triliun ke seluruh dunia.

Hanya saja di beberapa negara mulai terjadi penurunan tingkat kesuburan. Namun, penurunan tingkat kesuburan belum terjadi di Indonesia.

"Demografi berubah lebih cepat, perekonomian sepuluh negara itu telah tumbuh dua hingga tiga kali lebih cepat daripada laju pertumbuhan Uni Eropa dan AS pada tingkat pendapatan yang sama. Tetapi, penurunan tingkat kesuburan mereka lima hingga tujuh kali lebih cepat," kata Neelkanth.



Simak Video "Kemiskinan RI Tembus 26 Juta, 2024 Yakin Nihil Kemiskinan Ekstrem?"
[Gambas:Video 20detik]
(hal/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT