Laris Manis di RI, WhatsApp Jadi Senjata Baru Pemerintah Bereskan Stunting

ADVERTISEMENT

Laris Manis di RI, WhatsApp Jadi Senjata Baru Pemerintah Bereskan Stunting

Herdi Alif Al Hikam - detikFinance
Rabu, 09 Nov 2022 09:21 WIB
WhatsApp
Ilustrasi WhatsApp/Foto: Getty Images/rodrigobark
Jakarta -

WhatsApp sudah tidak asing lagi bagi masyarakat di Indonesia. Hampir semua orang di Indonesia, khususnya di kota-kota besar pasti memiliki dan sering berkomunikasi melalui aplikasi perpesanan instan ini.

Disinyalir sudah ada 2 miliar pengguna WhatsApp di seluruh dunia. Nah Indonesia sendiri menjadi salah satu pengguna terbesarnya. Data statista.com bahkan mencatat Indonesia kini menempati urutan ketiga pengguna terbesar WhatsApp dengan jumlah 84,8 juta pengguna.

Vice President of Global Affairs & Strategic Markets at WhatsApp Victoria Grand mengakui memang Indonesia menjadi salah satu negara dengan pengguna WhatsApp terbesar di dunia. Namun, untuk berapa persisnya jumlah pengguna di Indonesia dia enggan membicarakannya. Yang jelas, angka yang besar ini menurutnya sangat berarti untuk WhatsApp.

"Itu sangat berarti. Makanya saya di sini. Indonesia adalah salah satu pasar teratas buat WhatsApp. Salah satu negara yang paling banyak menggunakan WhatsApp. Cuma itu yang bisa saya bilang. Kita tidak bisa menyebutkan angkanya," ungkap Victoria saat berbincang dengan detikcom di Kantor Meta Jakarta, bilangan Gatot Subroto, Jakarta Selatan.

Saking besarnya pengguna WhatsApp di Indonesia, pihaknya pun sampai diajak kerja sama untuk beberapa hal dengan pemerintah Indonesia. Misalnya saja kerja sama dengan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

WhatsApp baru saja diajak kerja sama langsung oleh Kemenkes dalam rangka memberikan akses pelayanan publik yang lebih luas. Kemenkes sendiri sudah sangat sering menggunakan chatbot di masa pandemi untuk distribusi informasi soal COVID-19.

WhatsApp akan digunakan untuk memberikan pelayanan kesehatan untuk publik lainnya selain COVID-19. Ada sekitar lima hal yang akan dikembangkan.

"Pertama, mereka akan gunakan itu untuk membantu orang menjadwalkan pertemuan dengan dokter, kedua untuk mengingatkan keluarga soal vaksinasi bagi anak-anak, ketiga pelatihan perawat medis," jelas Victoria.

Keempat, WhatsApp akan digunakan untuk menyelenggarakan kampanye kesehatan. Dan terakhir juga tak kalah penting, WhatsApp akan ikut mengatasi masalah stunting anak di Indonesia.

"Kami juga akan membantu pemerintah mengumpulkan data tentang stunting, jadi kita bisa membantu menghindari terjadinya stunting pada anak-anak di Indonesia," kata Victoria.

Stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan anak akibat kekurangan gizi kronis dan infeksi berulang, yang ditandai dengan panjang atau tinggi badannya di bawah standar. Stunting kini menjadi fokus pemerintah karena bisa menghambat potensi optimal anak-anak sebagai generasi penerus bangsa.

Hal ini menjadi fokus utama karena semakin banyak kasus stunting yang terjadi di Indonesia. Berdasarkan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) Kemenkes, prevalensi Balita stunting sebesar 24,4% pada 2021. Artinya, hampir seperempat Balita Indonesia mengalami stunting pada tahun lalu.

Selain dengan Kemenkes, WhatsApp juga bekerja sama dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kemkominfo) untuk peningkatan literasi digital. Pihaknya bekerja sama dengan Kemkominfo untuk membuat sebuah chatbot atau pesan otomatis yang membagikan literasi soal keamanan data di era digital.

"Mereka ingin memastikan orang-orang tahu bagaimana untuk bisa tetap aman di tengah transformasi digital. Dan itu bukan cuma buat anak-anak muda, tapi juga buat semua orang," kata Victoria.

Victoria menjelaskan Kemkominfo punya rencana untuk melatih 12,5 juta orang setiap tahun soal literasi digital. Di sisi lain pihaknya punya platform luar biasa yang bisa menjangkau banyak orang. Maka dari itu pihaknya diajak kerja sama dengan cara penggunaan platform bisnis WhatsApp untuk pekerjaan literasi digital.

Sejak 2019, WhatsApp telah bekerja sama dengan Kominfo dan berbagai mitra pelatihan untuk melatih lebih dari 80.000 orang dan menjangkau lebih dari 2,4 juta orang di 34 provinsi di Indonesia.

(hal/eds)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT