Ada KTT G20, Sandiaga Yakin Sektor Pariwisata Bisa Raup Devisa Rp 26 T

ADVERTISEMENT

Ada KTT G20, Sandiaga Yakin Sektor Pariwisata Bisa Raup Devisa Rp 26 T

Anisa Indraini - detikFinance
Selasa, 15 Nov 2022 23:19 WIB
Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno ketika ditemui di BNDCC Nusa Dua, Bali pada Minggu (13/11/2022). Foto: Ni Made Lastri Karsiani Putri
Foto: Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno ketika ditemui di BNDCC Nusa Dua, Bali. Foto: Ni Made Lastri Karsiani Putri
Nusa Dua -

Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno optimistis devisa sektor pariwisata bisa mencapai target US$ 1,7 miliar atau Rp 26,35 triliun (kurs Rp 15.502). Pasalnya, banyaknya perhelatan Internasional yang diselanggarakan tahun ini, termasuk Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20.

"Ini menjadi suatu sarana promosi agar kita menjadi target 3,6 juta (kunjungan wisman) dengan total devisa batas atas US$ 1,7 miliar," kata Sandiaga di Bali International Convention Center (BICC), Selasa (15/11/2022).

Sandiaga menjelaskan acara Internasional yang diselenggarakan secara tidak langsung akan mempromosikan Indonesia ke mancanegara. Tak hanya soal keindahan alam, tetapi juga kearifan lokal seperti tarian tradisional dan kerajinan tangan.

Salah satu ajang promosi yang dilakukan yakni melalui spouse program selama KTT G20. Lewat program ini, para istri kepala negara G20 diperlihatkan secara langsung kearifan lokal Indonesia mulai dari makanan, tarian, hingga produk buatan UMKM lokal.

Sejalan dengan target pencapaian devisa, sektor pariwisata ditargetkan mampu menciptakan 1,1 juta lapangan pekerjaan di pada tahun ini. Apalagi sampai akhir 2022 tingkat kunjungan wisata mancanegara (wisman) bisa mencapai 3,6 juta-4 juta.

"Mudah-mudahan di antara 3,6 juta-4 juta, yang berarti ini di atas target dari batas atas," tuturnya.

Meski begitu, Sandiaga menyebut ancaman resesi global di tahun depan akan sangat berdampak pada sektor pariwisata Indonesia. Sebab tingkat kunjungan dan belanja wisman di Indonesia tentu akan berkurang.

"Tapi kami melihat karakteristik baru wisatawan yang hadir ke Indonesia ini lebih lama tinggalnya dan dampak ekonomi dari kualitas belanjanya juga lebih baik," pungkas Sandiaga.

(aid/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT