Erdogan Dorong Ukraina Lanjut Ekspor Gandum via Laut Hitam

ADVERTISEMENT

KTT G20

Erdogan Dorong Ukraina Lanjut Ekspor Gandum via Laut Hitam

Anisa Indraini - detikFinance
Rabu, 16 Nov 2022 15:17 WIB
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan, tengah, dan istrinya Emine, kiri, turun dari pesawat setibanya di Bandara Internasional Ngurah Rai menjelang KTT G20 di Bali, Indonesia, Senin (14/11/2022).
Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Bandara Internasional Ngurah Rai menjelang KTT G20 di Bali, Indonesia, Senin (14/11)./Foto: AP/Firdia Lisnawati
Nusa Dua -

Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendorong Ukraina melanjutkan ekspor gandum melalui Laut Hitam. Hal ini disepakati bersama Ukraina dan PBB demi menekan dampak krisis pangan.

"Inisiatif yang melibatkan para pihak dan telah berhasil bahwa semua pihak duduk di meja perundingan berulang kali bersama Ukraina, PBB, kami telah membangun satu koridor untuk ekspor gandum di Laut Hitam untuk membantu krisis pangan," kata Erdogan di Nusa Dua, Rabu (16/11/2022).

Erdogan memastikan bahwa ekspor gandum bisa terus berjalan terutama untuk Afrika. "Lebih dari 11 juta ton gandum masuk pasar dunia. Kami melanjutkan kegiatan kami dan memastikan bahwa transportasi gandum dapat terus menerus berjalan lancar terutama untuk tujuan Afrika," ujarnya.

Lebih jauh, ia mengatakan ekspor gandum asal Ukraina sudah mencapai 11 juta ton. Pihaknya akan bertemu dengan Presiden Rusia Vladimir Putin untuk membicarakan ekspor pupuk dan amonia.

"Tentang ekspor gandum hal ini sudah mencapai lebih dari 11 ton dan pupuk sangat penting amonium juga sangat penting. Ketika saya kembali ke Turki, saya akan bertemu Putin untuk membicarakan ekspor pupuk dan amonium. Ini adalah isi dari perjanjian Istanbul dan kita akan melaksanakan hal tersebut," tuturnya.

Erdogan kemudian bicara soal pengetatan perjalanan yang berdampak ke rantai pasok, harga pangan, dan energi yang tinggi. Hal ini bisa memicu banyak negara terancam terjun ke jurang resesi.

"Kita masih melihat adanya dampak dari pengetatan perjalanan internasional terhadap rantai pasok dan harga bahan pangan energi yang sangat tinggi membuat hampir seluruh dunia masuk resesi," ujarnya.

Jika tidak ada jalan keluar dari resesi, Erdogan mengatakan, akan ada bahaya yang mengintai dan bisa 'meledak' di masa depan.

"Kalau tidak bisa mencari jalan keluar, situasi ini akan memburuk dan krisis ini bukan hanya untuk kawasan tertentu tapi seluruh negara dari barat ke timur barat ke selatan. Negara yang paling rapuh adalah di Asia yg paling akan merasakan dampaknya," tuturnya.

(ara/hns)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT