Dulu Kerja di Startup Didambakan, Sekarang Deg-degan Kena PHK

ADVERTISEMENT

Dulu Kerja di Startup Didambakan, Sekarang Deg-degan Kena PHK

Danang Sugianto - detikFinance
Minggu, 20 Nov 2022 15:30 WIB
Ilustrasi startup atau start-up
Ilustrasi Startup (Foto: Getty Images/iStockphoto/Weedezign)
Jakarta -

Bekerja di perusahaan rintisan seperti startup, unicorn hingga decacorn sempat menjadi salah satu pekerjaan yang diincar para fresh graduate. Gaji yang besar dan fasilitas memadai di kantor menjadi salah satu alasannya.

Tapi kondisi itu sepertinya mulai berubah. Hal itu ditandai dengan semakin banyaknya perusahaan startup yang melakukan pemutusan hubungan kerja (PHK). PT GoTo Gojek Tokopedia dan Ruangguru menambah daftar panjang perusahaan startup melakukan PHK.

Selain kedua perusahaan tersebut, sebelumnya ada Shopee Indonesia, Binar Academy, GrabKitchen, JD.ID, Lummo, Link Aja, TaniHub dan masih banyak lagi startup yang melakukan PHK.

Iya, masih akan terus terjadi, baik yang unicorn maupun masih rintisan. Apalagi yang rintisan yang belum jadi unicorn atau IPO, potensi tumbang nya besar

Direktur Eksekutif ICT Institute Heru Sutadi menilai badai PHK di sektor startup belum usai. Diperkirakan akan ada lagi perusahaan yang melakukan efisiensi. Dengan begitu mungkin para pekerja perusahaans tartup saat ini juga sedang resah.

"Iya, masih akan terus terjadi, baik yang unicorn maupun masih rintisan. Apalagi yang rintisan yang belum jadi unicorn atau IPO, potensi tumbangnya besar," tuturnya saat dihubungi detikcom, Minggu (20/11/2022).

Heru mengatakan, bekerja di startup memang sempat didambakan saat baru tumbuh subur di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Salah satu alasannya karena gaji yang relatif lebih besar dari perusahaan pada umumnya.

Perusahaan rintisan yang sudah punya nama memang seakan tidak ragu memberikan gaji yang besar dengan fasilitas mewah. Namun menurut Heru justru itu bisa menjadi salah satu penyebab perusahaan tidak efisien.

"Gaji yang besar dan fasilitas mewah juga yang membuat banyak startup tidak efisien. Mungkin ini juga bagian dari branding agar disebut seperti perusahaan besar Google atau Facebook dengan kantor yang lengkap fasilitasnya, tapi ternyata tidak dipakai, banyak space kantor terbuang tidak digunakan, jadi pemborosan," terangnya.

Sementara itu Akedemisi dan Pakar Bisnis Profesor Rhenald Kasali meragukan alasan GoTo dan Ruangguru melakukan PHK karena tekanan ekonomi global. Sebab seharusnya selama masa pandemi COVID-19 mereka diuntungkan.

"Benarkah itu terjadi pada mereka karena situasi ekonomi global? Saya kok ragu-ragu ya. Kalau saya lihat memang selama pandemi banyak sekali mereka diuntungkan. Semua orang menggunakan jasa mereka. Tetapi apa itu sustain?" tuturnya dalam konten video di akun Youtubenya.

Pada kenyataannya memang selama masa pandemi, ketika semua orang tidak bisa keluar rumah, layanan antar makanan dan barang yang diberikan GoTo sangat dibutuhkan.

Sementara Ruangguru sempat menjadi platform digital dalam program Kartu Prakerja. Meskipun akhirnya perusahaan mundur setelah muncul polemik.

Rhenald menduga apa yang terjadi dengan startup bahkan yang sudah raksasa seperti GoTo bukan karena situasi ekonomi global tapi karena bakar duit yang terlalu berlebihan.

"Yang pertama mungkin bakar duitnya secara berlebihan. kalau bakar duit secara berlebihan ini yang terjadi, kompetisi di antara mereka," ucapnya.

(das/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT