Ekonomi Global Diramal Melambat, Eropa Paling Parah!

ADVERTISEMENT

Ekonomi Global Diramal Melambat, Eropa Paling Parah!

Ilyas Fadhillah - detikFinance
Rabu, 23 Nov 2022 08:36 WIB
LEEDS, ENGLAND - OCTOBER 21: A sign painted on the side of a house directs people to a local food bank on October 21, 2022 in Leeds, England. A report from the Office for National Statistics (ONS) published earlier this week showed consumer prices index rising to 10.1% in September, with food and drink rising at a rate of 15%, the largest jump in decades and forcing many people to use charity food banks. (Photo by Christopher Furlong/Getty Images)
Foto: Getty Images/Christopher Furlong
Jakarta -

Ekonomi global harus menghindari resesi tahun depan. Namun krisis energi terburuk sejak 1970-an diprediksi memicu perlambatan ekonomi.

Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD) mengatakan, perang terhadap inflasi harus menjadi prioritas saat ini.

Pertumbuhan ekonomi dunia diprediksi melambat dari 3,1% di tahun ini menjadi 2,2% tahun depan. Pertumbuhan ekonomi baru akan naik pada 2024 menjadi 2,7%.

"Kami tidak memprediksi resesi, tapi yang pasti kami memproyeksikan periode pelemahan yang nyata," kata kepala OECD Mathias Cormann, dikutip dari Reuters, Rabu (23/11/2022).

OECD menyebut, perlambatan yang terjadi memukul perekonomian secara tidak merata. Eropa menanggung beban terberat karena perang Rusia-Ukraina menghantam aktivitas bisnis. Perang ini juga mendorong lonjakan harga energi.

Diperkirakan ekonomi 19 negara zona Eropa akan tumbuh 3,3% tahun ini, kemudian melambat menjadi 0,5% pada 2023 sebelum pulih berkembang 1,4% pada 2024.

OECD memperkirakan kontraksi 0,3% tahun depan terjadi di Jerman, di mana ekonominya didorong oleh industri yang sangat bergantung pada ekspor energi Rusia.

Ekonomi Perancis yang tidak terlalu bergantung pada gas dan minyak Rusia diperkirakan hanya tumbuh 0,6% tahun depan. Sementara ekonomi Italia kemungkinan tumbuh 0,2%, yang berarti beberapa kontraksi triwulanan kemungkinan terjadi.

Lalu, ekonomi Inggris terlihat menyusut 0,4% tahun depan akibat kenaikan suku bunga, lonjakan inflasi, dan tingkat kepercayaan yang anjlok. Sebelumnya OECD memperkirakan pertumbuhan ekonomi Inggris hanya 0,2%.

Perekonomian Amerika Serikat (AS) kemungkinan bakal membaik. Pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan melambat 1,8% tahun ini akan menjadi 0,5% pada 2023. Lalu naik menjadi 1,0% di 2024.

OECD sebelumnya memperkirakan pertumbuhan ekonomi AS hanya 1,5% tahun ini. Sementara proyeksi di 2023 tidak berubah.

China yang bukan anggota OECD diprediksi mengalami peningkatan pertumbuhan ekonomi tahun depan. Pertumbuhan ekonomi China kemungkinan meningkat dari 3,3% tahun ini menjadi 4,6% pada 2023, dan 4,1% pada 2024.

Saat kebijakan moneter yang ketat berlaku dan tekanan harga energi mereda, inflasi di seluruh negara OECD terlihat akan turun. Dari inflasi sekitar 9% tahun ini menjadi 5,1% pada tahun 2024.

"Pada kebijakan moneter, pengetatan lebih lanjut diperlukan di sebagian besar ekonomi maju dan di banyak ekonomi pasar berkembang untuk memperkuat ekspektasi inflasi," kata Cormann.



Simak Video "Jokowi Perintahkan Kementerian Keroyokan Atasi Inflasi"
[Gambas:Video 20detik]
(zlf/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT