Cerita Luhut, Beri 4 Syarat ke Utusan Biden Kalau Mau Investasi di RI

ADVERTISEMENT

Cerita Luhut, Beri 4 Syarat ke Utusan Biden Kalau Mau Investasi di RI

Shafira Cendra Arini - detikFinance
Minggu, 27 Nov 2022 20:30 WIB
Poster
Foto: Edi Wahyono
Pomalaa -

Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan bercerita soal dirinya yang memberikan 4 syarat investasi kepada Utusan Khusus Presiden Amerika Serikat (AS) untuk masalah iklim, John Kerry.

Peristiwa ini terjadi saat keduanya tengah membahas soal Just Energy Transition Partnership (JETP) atau kemitraan transisi energi menyangkut early retirement cofiring.

"Itu saya berikan syarat 3 kepada mereka, dan itu saya yang berikan syarat. Saya bilang, 'Pak John, there are three criteria that you have to consider in order to finalize this deal'," ucap Luhut dalam sambutannya di Seremonial Ground Breaking Blok Pomalaa, Kolaka, Sulawesi Tenggara, Minggu (27/11/2022).

Syarat pertama, kata Luhut, apapun usulan AS menyangkut kesepakatan ini, jangan sampai mendistorsi atau mengganggu pertumbuhan ekonomi RI. Kalau tidak, Luhut dengan tegas menyatakan akan menolaknya.

"Jadi apapun usulannya, usulan kalian kalau mengganggu pertumbuhan ekonomi kita yang sudah baik, saya pasti tidak setuju. Kamu mau lapor ke mana pun terserah. Saya ndak setuju," tegas luhut.

Yang kedua, ia juga menyampaikan kepada Kerry kalau semua teknologi yang diusulkan harus terjangkau. Luhut pun menyebutkan tarif listrik RI yang dibanderol sekitar 5-6 sen atau setara Rp 785-942 per kwh (kurs Rp 157).

"Yang ketiga, saya bilang itu harus timely, harus waktunya yang pas. Kalau teknologimu 10 tahun lagi yang datang, kami sudah ke mana-mana," kata Luhut.

Kemudian, Luhut mengatakan, ada syarat keempat, yaitu mengenai bunga yang didapat. Ia pun meminta Kerry untuk memberikan bunga dengan besaran seperti untuk negara maju.

"Jadi jangan kau kasih bunga negara berkembang. Kita harus set up kita punya karena kita pada posisi kuat," katanya.

"Saya tanya Rahmat, kalau nggak jadi (kesepakatan) apa yang terjadi? 'Nggak ada masalah pak'. Jadi kalau nggak jadi nggak ada masalah? 'Nggak ada'," ujar Luhut, sembari menirukan respon Rahmat.

Dari kejadian itu Luhut menekankan, penting untuk Indonesia mengetahui posisinya saat ini. Menurutnya, RI harus mengetahui bargaining positionnya demi kepentingan negosiasi seperti dalam perkara ini.

"Ingat, kita harus tahu siapa kita. Setelah China, India, Amerika, setelah itu Indonesia. dari segi populasi, indonesia. Dan ingat middle class kita ada 60 juta orang. Kita punya hampir semua mineral yang dibutuhkan di dunia ini sekarang ini," tandasnya.

(dna/dna)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT