Terancam Tenggelam, Negara Ini Mau Pindah ke Metaverse

ADVERTISEMENT

Terancam Tenggelam, Negara Ini Mau Pindah ke Metaverse

Ignacio Geordi Oswaldo - detikFinance
Selasa, 29 Nov 2022 15:16 WIB
Working in metaverse 3d rending
Foto: Getty Images/iStockphoto/XH4D
Jakarta -

Pernah mendengar tentang negara bernama Tuvalu? Tuvalu adalah sebuah negara yang amat kecil yang terletak di Samudera Pasifik. Negara ini terletak di selatan Samudera Pasifik, dekat dengan Kepulauan Fiji dan Kiribati.

Tuvalu sendiri terdiri dari 9 pulau kecil dengan Pulau Funafuti sebagai pusat pemerintahannya dan memiliki total populasi di sekitar 12 ribu jiwa. Layaknya negara-negara di pasifik, Tuvalu dianugerahi dengan keindahan bahari. Eksotisme laut dan pengaruh khatulistiwa membuat Tuvalu cantik di luar standar.

Namun baru-baru ini negara tersebut telah membuat berita yang cukup menggemparkan, yakni memindahkan negara mereka dalam bentuk data ke dunia digital Metaverse. Adapun hal ini dilakukan karena daratan di Tuvalu kian hari semakin tenggelam.

Melansir dari euronews, akibat perubahan iklim yang mengakibatkan pencairan es di kutup dan naiknya ketinggian permukaan laut, saat ini hingga 40 persen dari ibukotanya berada di bawah air saat air pasang.

Bahkan menurut perkiraan yang paling akurat, seluruh negara Pasifik diperkirakan akan sepenuhnya berada di bawah air pada akhir abad ini.

Karena itulah Simon Kofe selaku Menteri Luar Negeri Tuvalu kini telah mengumumkan rencananya untuk menjadikan negara tersebut sebagai negara digital pertama di metaverse, ranah online yang menggunakan augmented reality dan virtual reality untuk membantu pengguna berinteraksi.

Tahun lalu, Kofe mendesak para pemimpin global untuk mengambil tindakan berani dan alternatif hari ini untuk mengamankan hari esok di KTT iklim COP26 sambil berdiri setinggi lutut di laut untuk menggambarkan bagaimana Tuvalu berada di garis depan perubahan iklim.

Menteri menjelaskan bahwa negara harus mengambil tindakan sendiri - termasuk membuat versi virtual negara di metaverse - karena pesannya pada pertemuan puncak tahun lalu tidak diperhatikan oleh dunia.

"Sejak COP26, dunia belum bertindak dan kami di Pasifik harus bertindak. Kami harus mengambil langkah pencegahan kami sendiri dengan proyek Future Now. Saat tanah kami menghilang, kami tidak punya pilihan selain membangun negara digital pertama," katanya saat berbicara di COP27 sebagaimana dikutip detikcom dari euronews.

Kemudian pesan yang disampaikannya diakhiri dengan simulasi pulau kecil di metaverse, menunjukkan bagaimana salinan virtual negara itu akan terlihat.

"Tanah kami, lautan kami, budaya kami, adalah aset paling berharga dari rakyat kami. Dan untuk menjaga mereka tetap aman dari bahaya, apa pun yang terjadi di dunia fisik, kami akan memindahkan mereka ke awan," katanya.

"Pulau-pulau seperti ini tidak akan bertahan dari kenaikan suhu yang cepat, kenaikan permukaan laut, dan kekeringan. Jadi kita akan membuatnya kembali secara virtual. Sedikit demi sedikit kita akan melestarikan negara kita, memberikan penghiburan bagi rakyat kita dan mengingatkan anak cucu kita apa rumah kita dulu"

Kofe memperingatkan bahwa mungkin tidak dapat dihindari bagi negara lain untuk bergabung dengan metaverse saat tanah mereka menghilang. "Kita harus mulai melakukannya [mengambil tindakan] hari ini. Kalau tidak, dalam seumur hidup, Tuvalu hanya akan ada di sini," katanya.

(fdl/fdl)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT