Uni Eropa Kaji Sepatu Cina, Produsen Lokal Ketar-ketir

Uni Eropa Kaji Sepatu Cina, Produsen Lokal Ketar-ketir

- detikFinance
Rabu, 26 Jul 2006 18:02 WIB
Jakarta - Produsen sepatu dalam negeri mulai ketar-ketir dengan rencana Uni Eropa yang akan meninjau kembali pengenaan Bea Masuk Anti Dumping (BMAD) terhadap Cina dan Vietnam.Pasalnya, pengenaan BMAD Uni Eropa terhadap produk alas kaki asal Cina dan Vietnam selama ini menguntungkan Indonesia. Karena pesanan dari Eropa untuk kedua negara itu dialihan ke Indonesia.Menurut Ketua Umum Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Eddy Widjanarko, Uni Eropa sedang mengkaji apakah Cina dan Vietnam betul melakukan produksi dibawah harga produksi yang sewajarnya antidumping."Keputusannya November atau Desember ini," kata Eddy pada peresmian pameran Indo Leather and Footwear di Kemayoran, Jakarta (26/7/2006).Setelah dikenai bea masuk antidumping oleh Uni Eropa, Cina dan Vietnam mengajukan bukti untuk menyatakan kewajaran ongkos produksi mereka bila dibandingkan dengan harga jual produknya. Hasil keputusannya, ungkap Eddy, ada dua yakni terbukti artinya pengenaan bea masuk diteruskan atau dicabut keputusannya."Industri alas kaki dalam negeri lantas memiliki waktu, dua tahun hingga maksimal lima tahun, untuk mengejar peluang merebut pasar alas kaki Uni Eropa dari produk Cina dan Vietnam," kata Eddy.Menurut Eddy, jika terbukti Cina dan Vietnam tidak melakukan dumping, dua tahun setelah dikenai biaya tambahan maka kebijakan itu dicabut. Sedangkan lima tahun adalah masa pengenaan bea masuk tambahan tersebut, dalam perkara ini Indonesia memiliki waktu hingga 2010," tambah Edy.Uni Eropa juga berencana menerapkan kuota bagi alas kaki asal Cina dan Vietnam. Jumlahnya 250 juta pasang bagi Cina dan 150 juta pasang bagi Vietnam. Bagi Aprisindo, tutur Eddy, pengenaan antidumping dan kuota sama baiknya bagi Indonesia. Ia menargetkan bila kuota terealisasi, Indonesia minimal sanggup meraih ekspor 150 juta pasang sepatu ke Eropa.Pangsa pasar ekspor alas kaki Cina ke Eropa sebesar 500 juta pasang per tahun, sedangkan Vietnam sebesar 150 juta pasang. Hingga Mei ini, Cina telah mengekspor 210 juta pasang alas kaki ke Eropa.Untuk meningkatkan industri alas kaki, Eddy berharap perbankan kembali menurunkan suku bunga untuk pinjamannya. Suku bunga Indonesia sebesar 18 persen kalah bersaing dengan negara tetangga Indonesia hingga 10 persen. "Lihat saja Cina yang hanya 7 persen, India 9 persen, Filipina 9 persen, dan Malaysia 7 persen," urai dia. Sementara Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Departemen Perindustrian, Ansari Bukhari berujar, apabila Uni Eropa mencabut kebijakan bea masuk antidumpingnya maka Indonesia kembali bersaing secara terbuka di pasar alas kaki Eropa.Sedangkan pengenaan kuota mengakibatkan Indonesia harus bersaing meraih selisih pangsa ekspor Cina dan Vietnam. "Indonesia bisa berharap dari kenaikan permintaan alas kaki Eropa," lanjutnya. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads