Waspada! Sri Mulyani Ungkap Pandemi Baru hingga Perubahan Iklim Ancam Ekonomi

ADVERTISEMENT

Waspada! Sri Mulyani Ungkap Pandemi Baru hingga Perubahan Iklim Ancam Ekonomi

Ilyas Fadilah - detikFinance
Jumat, 02 Des 2022 18:00 WIB
Menkeu Sri Mulyani dan Menteri BUMN Erick Thohir bicara soal keberadaan Harley Davidson dan Brompton di pesawat Garuda. Menteri BUMN ungkap pemilik Harley itu.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati/Foto: Agung Pambudhy
Jakarta -

Indonesia berada dalam momentum pemulihan ekonomi imbas pandemi COVID-19. Meski demikian, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut akan ada beberapa guncangan yang dihadapi dunia.

Salah satu guncangan yang akan terjadi adalah gelombang pandemi selanjutnya. Bendahara negara ini memprediksi terjadi gelombang pandemi susulan yang harus diantisipasi.

"Seperti tadi pandemi, ini bukan pandemi terakhir, jadi kemungkinan akan muncul siklus pandemi mendatang, harus diantisipasi," katanya dalam Rapimnas KADIN 2022 di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (2/12/2022).

Guncangan kedua yang disebut Sri Mulyani Indrawati adalah perubahan iklim. Perubahan iklim dunia diprediksi menimbulkan dampak perubahan musim yang berpengaruh pada ekonomi dan keuangan.

Ketiga adalah guncangan geopolitik. Menurut Sri Mulyani, dalam tiga dekade terakhir kerja sama global antar negara tidak memiliki blok-blok khusus. Namun, kini sudah terjadi fragmentasi atau perpecahan dalam geopolitik dunia.

"Ketiga geopolitik, ini dalam tiga dekade terakhir dunia selama ini kerja sama global antar negara tidak dipilah-pilah antar Blok Barat atau blok G7 atau non Barat, sekarang terjadi fragmentasi dalam geopolitik," ungkapnya.

Menurutnya, hal ini sangat berdampak pada perekonomian global, termasuk Indonesia. Peta investasi dan perdagangan akan berubah.

Konsep rantai pasok tidak hanya mencari tempat paling murah dan efisien, melainkan juga mempertimbangkan faktor negara sahabat atau bukan. "Konsep supply chain tidak hanya cari tempat yang paling murah dan efisien, tapi ditambah kriteria apakah negara tersebut teman atau non teman," jelasnya.

Hal inilah yang menimbulkan banyak perubahan pada perekonomian. Perubahan geopolitik menambah disrupsi ke rantai pasok dan menimbulkan tekanan ke harga pangan, pupuk, dan mendorong inflasi.

"Ini direspons pengetatan moneter, kenaikan suku bunga likuiditas, terutama di Amerika Serikat (AS), Eropa, dan bahkan Jepang," pungkas Sri Mulyani Indrawati.

(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT