Perusahaan Semen Berlomba Bikin Pabrik Baru
Kamis, 27 Jul 2006 16:16 WIB
Jakarta - Meski pasar semen tahun ini tidak menggembirakan, namun perusahaan semen berlomba-lomba membuat pabrik baru.Selain Semen Gresik yang telah mengumumkan investasi pabrik baru Rp 2,8 triliun, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat tiga pabrik semen yang akan membangun pabrik baru.Ketiga perusahaan itu adalah Semen Andalas, Siam Cement yang akan membangun di Sukabumi dan Holcim yang juga akan membangun pabrik baru di Tuban.Semen Andalas yang dimiliki oleh Lafarge menginvestasikan dana US$ 450 juta, Siam Cement senilai US$ 95 juta Holcim antara US$ 150-300 juta."Yang sudah masuk sekarang Semen Andalas, Siam Cement dan Holcim," Ketua BKPM M Luthfi.Hal itu disampaikan Luthfi di sela acara peresmian pembangunan pabrik baru PT HM Sampoerna Tbk di Karawang International Industrial City, Karawang, Jawa Barat, Kamis (27/7/2006). Menurut Luthfi, pembangunan pabrik tersebut mencerminkan suplai semen lebih rendah ketimbang permintaan. Luthfi optimistis pertumbuhan pasar semen tahun ini akan sama seperti 2005 yaitu 9 persen. Sementara Dirjen Industri Agro dan Kimia Depertemen Perindustrian Benny Wahyudi sebelumnya memperkirakan penjualan semen tahun ini hanya tumbuh 2 persen. Proyeksi Depperin ini berdasarkan kinerja triwulan I-2006 yang mengalami penurunan penjualan 4 persen. Padahal pada awal tahun, penjualan semen 2006 ditargetkan tumbuh 8-10 persen. Sementara pada tahun 2005 dari target pertumbuhan 10 persen hanya terealisasi 5 persen. Luthfi menjelaskan, dibanding Malaysia, harga semen Indonesia masih jauh lebih mahal. Hal tersebut mencerminkan tidak berkembangnya supply dan demand. Perbedaan dengan Malaysia bisa mencapai US$ 20 per ton.Berdasarkan izin yang diajukan, Semen Andalas akan membangun 2 pabrik baru di Langkat dan Aceh Utara, Provinsi NAD.Sedangkan Holcim meski belum meminta izin ke BKPM, namun tim eksekutif sudah datang ke BKPM dan melakukan studi untuk ekspansi."Ekspansi Holcim akan dilakukan di Tuban, investasinya 1 line. Satu line itu antara US$ 150-300 juta, tergantung kecanggihannya," kata Luthfi.
(ir/)











































