Anak Buah Luhut Sebut RI Keluar dari 'Ekonomi Monyet', Apa Maksudnya?

ADVERTISEMENT

Anak Buah Luhut Sebut RI Keluar dari 'Ekonomi Monyet', Apa Maksudnya?

Ilyas Fadilah - detikFinance
Rabu, 07 Des 2022 11:21 WIB
Pemerintah mengambil kebijakan untuk melakukan pelarangan ekspor batubara periode 1 hingga 31 Januari 2022.
Ilustrasi Tambang Batu Bara/Foto: Pradita Utama
Jakarta -

Deputi Bidang Investasi dan Pertambangan Kemenko Marves Septian Hario Seto mengatakan, Indonesia telah mengubah mindset ekonominya. Sumber daya mentah yang diekspor mulai diolah demi menciptakan nilai tambah.

Seto menganalogikan mindset ekonomi Indonesia dahulu sebagai ekonomi ayam dan ekonomi monyet. Maksudnya, Indonesia hanya fokus mengekspor bahan mentah ke luar negeri.

"Dulu kita itu mindset-nya ekonomi ayam. Kenapa? Kalau ayam cari makan dia gali-gali, makan. Sama kaya kita, nambang gali-gali, ekspor. Atau kalau misalnya ada asosiasi yang lain, kita ekonomi monyet. Petik, makan," katanya dalam Forum Kemitraan Investasi di Hotel Four Seasons, Jakarta Selatan, Rabu (7/12/2022).

Kini kekayaan sumber daya alam (SDA) diolah sebelum diekspor. Menurutnya, hilirisasi seperti ini memberi dampak yang signifikan. "Mindset berubah, kekayaan sumber daya alam yang mentah diolah dengan nilai yang lebih tinggi. Itu signifikan dampaknya," ungkapnya.

Seto menyinggung hilirisasi nikel yang sukses memberikan nilai tambah tinggi. Dari mengolah nikel menjadi besi baja, pemerintah kini mulai mengarahkannya ke baterai lithium.

Berdasarkan data pemerintah, per Oktober 2022 kontribusi turunan ekspor nikel mencapai US$ 28,3 miliar. Pada akhir tahun jumlahnya diprediksi melonjak hingga US$ 33 miliar.

"Kita lihat Oktober 2022 kontribusi turunan ekspor nikel US$ 28,3 miliar. Akhir tahun bisa mendekati US$ 33 miliar, ini signifikan, ini ingin kita capai," ujarnya.

Ia menyebut untuk membangun ekosistem baterai listrik tidak bisa hanya mengandalkan nikel dan kobalt. Indonesia juga membutuhkan aluminium, anoda, tembaga, dan lainnya.

"Tidak hanya fokus hilirisasi nikelnya, kita tarik investasi anoda dan lithium. Lithium kita tidak punya. Tapi saat ini bangun pabrik di Morowali, bahan baku impor lithium dari Australia," ujarnya. Jika ekosistemnya sudah terbangun, Seto yakin dampak yang diterima UMKM akan besar.

Simak juga Video: Swedia dan Indonesia Jalin Kerja Sama Jangka Panjang untuk Ekonomi Hijau

[Gambas:Video 20detik]




(ara/ara)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT