Sri Mulyani Tantang IMF
Senin, 31 Jul 2006 12:27 WIB
Jakarta - Dengan ketus, Menkeu Sri Mulyani menantang para pejabat IMF. Jika pejabat IMF mau bekerja sebagai pejabat dengan gaji menteri Indonesia, Sri Mulyani rela memberikan gajinya setahun."If you are in my shoes, kamu ada di sini, digaji seperti Menteri Indonesia, can you do this? I can tell you, I give you gaji menteri setahun kalau tahan menjadi menteri sebulan," tantang Sri Mulyani.Tantangan Sri Mulyani itu disampaikan di hadapan ratusan peserta yang hadir dalam Indonesia Investment Forum I di Hotel Mulia, Senayan, Jakarta, Senin (31/7/2006).Sri Mulyani membuka acara dengan memberikan pemaparan, salah satunya tentang optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Setelah Sri Mulyani berbicara sebagai pembicara kunci, acara dilanjutkan dengan tanya jawab.Seorang peserta bernama Agus Miftach dengan sinis menilai bahwa pidato Sri Mulyani terlalu indah dan tidak merakyat. Agus justru menilai Sri Mulyani bak IMF. Bahkan menurutnya, lebih baik mengundang Michael Camdesus sebagai menteri keuangan daripada Sri Mulyani sendiri.Ia kemudian mempertanyakan soal kebijakan makro pemerintah. "Bagaimana posisi rakyat Indonesia dalam variabel ekonomi makro kebijakan pemerintah, kondisi ekonomi dan fiskal yang bagaimana yang akan dibawa pemerintah ke depan," tanyanya.Menjawab pertanyaan itu, Sri Mulyani dengan tegas menjawab, jika Indonesia tidak mau didikte oleh IMF, maka semua pihak harus bekerja."Hari gini ngomongin IMF. Kalau memang tidak ingin didikte oleh bule-bule itu, maka harus kerja keras, jangan hanya ngomel-ngomel dan pidato retorika. Saya tidak ingin populer, tapi tolong seluruh Indonesia harus bersatu untuk menghadapi tekanan dunia internasional," tegas mantan Direktur IMF ini.Atas tudingan sebagai 'orang IMF', Sri Mulyani menegaskan bahwa dirinya masuk IMF karena mendapat tugas dari Indonesia. Ia juga harus mewakili 12 negara miskin dan berkembang untuk berjuang membela kepentingan mereka."Perlu kemampuan berbahasa Inggris yang hebat untuk berjuang dan berdebat di sarang para kapitalis itu. Dan bukan hanya sekadar pidato yang retoris namun harus bekerja keras," cetusnya.
(qom/)











































