Investasi Tekstil Masih Stagnan
Senin, 31 Jul 2006 16:45 WIB
Jakarta - Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) mencatat sejak tahun 2002 nilai investasi sektor tekstil dan produk tekstil (TPT) masih stagnan dengan nilai Rp 132 triliun."Stagnan memang, tidak ada investasi. Ada beberapa tapi kecil-kecil. Pemicunya fungsi intermediasi perbankan tidak berjalan dan suku bunga tinggi. Sehinggatidak ada penambahan tenaga kerja," jelas Sekjen API, Ernovian G Ismy saat dihubungi wartawan, di Jakarta, Senin (31/7/2006). Menurutnya, sejak 2001 investasi tidak berjalan. Iklim usaha juga tidak mendukung, kendati nilai ekspor naik tapi volume ekspor turun. "Investor kalau menanamkan modalnya harus mencari untung. Bagaimana mau investasi kalau di dalam negeri risiko besar. Daya saing turun, banyak demo, sektor energi defisit," keluh Ernovian. Nilai ekspor TPT periode Januari-April naik 6 persen. Namun menurut Ernovian, volume menurun, karena di pasar internasional Indonesia harus berkompetisi dengan India dan Cina. Sedangkan di dalam negeri pasar tekstil Indonesia digerogoti barang illegal. "Kalau keduanya terganggu pasti pesanan berkurang. Perlu ada terobosan pemerintah," tambahnya. Terobosan yang diperlukan itu terutama untuk restrukturisasi mesin dalam rangkameningkatkan daya saing. Diakui Ernovian, secara makro memang tidak ada investasi baru selama lima tahun terakhir. Maka itu, menurutnya, pasar dalam negeri harus dilindungi. Solusinya harus dari kebijakan pemerintah, koordinasi antar departemen,perbaikan fiskal dan moneter. Sementara Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil dan Aneka Departemen Perindustrian Ansari Bukhari mengatakan, meski nilai investasi itu tidak berkembang namun tetap ada pertumbuhan, dengan adanya perusahaan tekstil di luar API. Sedangkan Ketua BKPM M Luthfi, saat dihubungi wartawan menjawab, investasi perusahaan tekstil tidak stagnan hanya saja nilai pertumbuhannya kecil. "Bukan berarti tidak ada investasi, bukan stagnan tapi stabil. Karena biladibandingkan dengan total investasi, nilai investasi di TPT ini besar," jelas Luthfi, Senin (31/7/2006).
(ir/)











































