Mari: Perundingan WTO Kritis
Rabu, 02 Agu 2006 18:06 WIB
Jakarta - Perundingan World Trade Organization (WTO) memasuki babak kritis setelah upaya menjembatani perbedaan kepentingan antara negara anggota WTO belum mencapai hasil.Upaya itu dilakukan oleh Director General WTO Pascal Lamy selama dua bulan terakhir. Kondisi ini memaksa Lamy untuk menunda sementara perundingan Doha.Kemacetan perundingan terlihat dari hasil pertemuan kelompok negara G-6 (AS, Australia, Uni Eropa, Brasil, India dan Jepang) pada 23-24 Juli 2006 yang merupakan pemain kunci. Demikian disampaikan Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu yang merupakan ketua kelompok negara G-33 saat konferensi pers di Kantor Departemen Perdagangan (Depdag) Jalan Ridwan Rais, Jakarta, Kamis (2/8/2006).Mari berharap, Menteri G-6 bisa kembali ke meja perundingan pada awal September dan menyelesaikan perundingan sesuai mandat Hongkong Declaration. "Perundingan benar-benar dalam masa kritis dan semua negara anggota WTO terutama negara maju harus memberikan fleksibilitas yang cukup kepada negara berkembang," keluh Mari.Dalam pernyataannya pada 24 Juli 2006, Indonesia atas nama kelompok G-33 menyampaikan kekecewaan atas ketidakberhasilan para Menteri G-6 memberikan terobosan."Sangat kecil kemungkinan kita dapat menyelesaikan perundingan akhir tahun ini, kalau tidak diselesaikan kita akan kembali berunding 2 sampai 3 tahun lagi," ujar Mari. Ditegaskan Mari, negara G-33 tetap solid berjuang bagi perlindungan petani sertapembangunan pedesaan. Menurutnya, tidak ada satu pihak pun menginginkan putaran perundingan Doha gagal di tengah jalan. Sementara perwakilan dagang AS Susan Schwab dan Menlu Brazil Celso Amorim optimistis bisa melakukan negosiasi putaran Doha dalam waktu 5-7 bulan lagi.
(ir/)











































