Dukung Harga Acuan Sawit, Pengusaha Kasih Catatan Ini ke Pemerintah

ADVERTISEMENT

Dukung Harga Acuan Sawit, Pengusaha Kasih Catatan Ini ke Pemerintah

Aulia Damayanti - detikFinance
Rabu, 25 Jan 2023 17:52 WIB
Pekerja melakukan bongkar muat kelapa sawit yang akan diolah menjadi minyak kelapa sawit Crude palem Oil (CPO) dan kernel di pabrik kelapa sawit Kertajaya, Malingping, Banten, Selasa (19/6). Dalam sehari pabrik tersebut mampu menghasilkan sekitar 160 ton minyak mentah kelapa sawit. File/detikFoto.
Foto: Jhoni Hutapea
Jakarta -

Pengusaha sawit mendukung rencana pemerintah yang akan membentuk harga acuan sendiri untuk komoditi sawit. Plt Ketua Dewan Minyak Sawit Indonesia Sahat Sinaga mengatakan hal tersebut penting untuk kepastian harga sawit di dalam negeri.

"Soal Juni selesai soal bursa price sawit Indonesia itu sangat bagus. Bursa sawit itu saya kira, yang butuh di situ ya IT (telekomunikasinya)," ujar Sahat saat ditemui dalam acara Press Conference Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI), Rabu (25/1/2023).

Menurut Sahat ada sejumlah catatan untuk pemerintah dalam membentuk harga acuan sawit. Ia mewanti-wanti jangan sampai ada pemain bisnis atau pengusaha lokal yang terlibat. Sahat berharap bursa sawit bisa diurus dengan pihak yang independen.

"Kemudian tidak boleh dipengaruhi oleh misalnya anda pengusaha lokal perkirakan jual sekian, beli tinggi kan tapi jual Rp 14.000, berarti ada selisih. Nah kalo eksportir bagi harga lebih tinggi lebih bagus itu akan dibeli oleh mereka. Ini berjalan jadi pelaku lokal pun bisa ikut. Nah tapi jangan pengurus ini anggota daripada pelaku usaha. Jangan, supaya dia ada punya rasa independen. Itu yg penting," jelasnya.

Ia pun mencontohkan salah satu perusahaan bursa yang menurunnya tak maksimal dalam mengatur harga acuan sawit nasional. Sahat mengungkap hal itu terjadi karena ada pemain dari pengusaha yang terlihat.

Menurut Sahat, adanya harga acuan sawit nasional akan menguntungkan pengusaha, karena ada kepastian harga. Jadi, tidak lagi bergantung pada harga di luar negeri yang menurutnya terkadang situasinya berbeda dengan dalam negeri.

"Nah kita kan bisa merasa loh, misalnya contoh, ini demand tinggi tapi bursa Rotterdam membuat harga rendah. Loh ini siapa yang diuntungkan. Kita dirugikan kan, nah itu saja yang perlu dijaga," jelasnya.

"Jadi dalam konteks harga bursa internasional itu pure supply and demand. Kalau suplai naik harga deman turun ya itu otomatis turun (harga) kan oversupply. Tapi sebaliknya ah itu perlu ditentukan," lanjutnya.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo) Gulat Manurung juga mendukung adanya bursa sawit di dalam negeri. Menurutnya memang seharusnya negara lain juga bisa mengacu harga dari Indonesia.

"Paling tidak melirik, kita nggak usah ngekor. Dengan harga berjangka itu akan mempermudah kami menerjemahkan harga sesungguhnya. Kiblat kami ini selama in harga KPBN, harga Rotterdam, Malaysia yang tidak memberikan kepastian cukup kepada kami," ujarnya.

Ia mendorong agar pemerintah bisa cepat merealisasikan bursa sawit ini. Karena sudah sejak lama Indonesia sebagai produsen sawit terbesar hanya mengacu dari harga negara lain.

"Faktanya semenjak tahun 1990an sudah nampak bahwa sawit ini ada di Indonesia, tetapi cukup lama itu dibiarkan. Jadi, bursa berjangka ini adalah harga yang ditunggu oleh petani sawit indonesia. Karena ini akan merangsang kami untuk lebih baik. kalau saya melihat itu sangat penting dan urgent," tutupnya.



Simak Video "Kantor Perusahaan Sawit di Lampung Dibakar Massa"
[Gambas:Video 20detik]
(ada/zlf)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT