Pemerintah Beri Insentif Pajak Industri Mesin Perkakas

Pemerintah Beri Insentif Pajak Industri Mesin Perkakas

- detikFinance
Kamis, 10 Agu 2006 16:55 WIB
Jakarta - Industri mesin perkakas yang perkembangannya masih minim mendapat prioritas dari Departemen Perindustrian (Depperin) untuk diberikan insentif berupa pengurangan pembayaran pajak (tax allowance) Industri mesin perkakas merupakan induk dari industri permesinan yang sangat dibutuhkan di dalam negeri. Namun karena jumlahnya masih minim sehingga belum ada penguasaan teknologinya karena lebih banyak dilakukan impor."Setiap industri pasti membutuhkan mesin perkakas. Namun, pasokannya dalam negeri tidak tercukupi, justru impor," kata Dirjen Industri Logam, Mesin, Tekstil, dan Aneka Depperin, Ansari Bukhari.Hal itu disampaikan Anshari, usai sosialisasi pameran Metal Technology andTools 2006 di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Kamis (10/8/2006).Insentif investasi yang diberikan, menurut Anshari, tertuang dalam PP 148 tahun2000 berupa pengurangan pajak 30 persen serta amortisasi dipercepat sampai lima tahun. Menurut Anshari, utilisasi industri permesinan masih rendah, yang tahun lalu hanya mencapai 63 persen dan tahun sebelumnya 59,6 persen.Sementara pertumbuhan industri permesinan tahun 2005 mencapai 7,68 persen. Realisasi itu lebih tinggi dibandingkan target pemerintah sebesar 4 persen, yang mengindikasian adanya kenaikan permintaan domestik.Perkembangan permintaan tersebut didukung catatan peningkatan impor barang modal yang bertambah signifikan dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Pada tahun tahun 2004 terdapat peningkatan 25 persen impor barang modal dibanding tahun 2003. Sedangkan pada tahun 2005, jumlahnya meningkat 30 persen dibanding tahun sebelumnya. Sementara Ketua Gabungan Perusahaan Pengerjaan Logam dan Mesin Indonesia, A Safiun menyatakan, jika Indonesia tidak memiliki perusahaan yang memproduksi mesin perkakas maka selamanya Indonesia akan impor. "Kondisi industri mesin perkakas terlupakan. Investor kalau tidak diberikan insentif tidak mau menanamkan modalnya di sektor yang tidak cepat bergerak," jelasnya. (ir/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads