Oman Tawarkan HSD 'Harga Miring'
Jumat, 11 Agu 2006 12:35 WIB
Jakarta - Pemerintah Oman menawarkan BBM jenis High Speed Diesel (HSD) kepada Indonesia dengan harga miring serta kontrak jangka panjang.Oman menawarkan harga HSD lebih murah dibandingkan yang harus dibeli Pertamina dengan harga spot. Oman yang selama ini mengorientasikan pasar HSD ke Barat, kini mulai melirik kawasan Timur. "Mereka menawarkan 200 ribu metrik ton per bulannya," ujar Alwi Hamu, staf khusus Wapres di kantor Wapres, Jakarta, Jumat (11/8/2006).Alwi turut mendampingi Wapres menerima Menteri Perminyakan dan Gas Kesultanan Oman Mohammed Hamed Saif Al-Rumhy. Hadir dalam kesempatan tersebut Dirut Pertamina Ari H Soemarno. Sementara Ari mengatakan, pemerintah Indonesia dan Oman saat ini terus melakukan pembicaraan intensif terkait rencana pembelian LNG. Pabrik LNG Oman sendiri saat ini mampu memroduksi sekitar 10,5 juta ton, sehingga ada kelebihan sekitar 600.000 ton."Kita minta Oman menjual kelebihan itu ke Indonesia untuk membantu mengatasi kekurangan LNG," jelas Ari.Menurut Ari, Indonesia perlu mengimpor LNG mengingat komitmen dari negara lain harus dipenuhi. Pembeli LNG Indonesia antara lain adalah perusahaan pembangkit listrik di Jepang, Korea, Taiwan dan distributor gas lokal."Karena kita kekurangan suplai ke pembeli-pembeli kita karena menurunnya produksi gas. Pertamina harus mencari alternatif suplai ke pembeli agar tidak mengalami kesulitan," jelasnya.Kilang LNG di Oman sendiri dimiliki oleh Shell, Mitsubishi dan Korea Gas. Karena Korea Gas adalah juga pembeli LNG Indonesia, lanjut Ari, maka harus ada kesepakatan terlebih dahulu."Mereka minta kelebihan gas itu mereka yang beli. Kalau nanti di kasih ke Indonesia, jangan-jangan dijual ke Jepang. Jadi ada negosiasi yang harus dilakukan," imbuhnya.Kekurangan LNG Indonesia sendiri diperkirakan mencapai 70 kapal. Sedangkan dari Oman sebanyak 600.000 ton hanya setara dengan 10 kapal."Jadi ini hanya sebagian kecil untuk memenuhi kekurangan. Untuk ekspor LNG 12 juta ton dan di dalam negeri LPG 1,1 juta," jelasnya.Pertamina berharap Oman bisa merealisasikan alokasi gas itu pada tahun ini. Sedangkan negara Timteng lainnya yakni Qatar juga sudah memberikan komitmennya untuk mengalokasikan 4 kargo atau sekitar 400.000 ton."Tapi ini masih dalam pembicaraan intensif. Karena kalau pabrik LNG dibuat sudah untuk memenuhi suplai kontrak jumlah tertentu. Jadi sudah habis terjual biasanya," ujar Ari.Menurutnya, 600.000 ton dari Oman itu pun juga merupakan 'sisa-sisa' produksi.Selain menawarkan LNG, lanjut Ari, Oman juga menawarkan pengembangan sarana produksi dan pengolahan migas di Indonesia. Negara kaya dari Timteng itu juga akan berinvestasi di sektor migas dan batubara yang lebih ekonomi dan teknologi yang lebih maju.
(qom/)











































