PDB RI Tumbuh 5,22 Persen
Senin, 14 Agu 2006 15:36 WIB
Jakarta - Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia selama triwulan II-2006 tumbuh sebesar 2,2 persen secara quarter to quarter (q to q). Sementara bila dibandingkan triwulan II-2005 atau secara year on year (yoy), PDB Indonesia sebesar 5,22 persen. Sedangkan secara akumulatif selama semester I-2006, PDB Indonesia tumbuh sebesar 4,97 persen. Besaran PDB atas harga dasar berlaku pada triwulan II-2006 mencapai Rp 803,4 triliun. Sedangkan PDB atas harga dasar konstan 2000 pada triwulan yang sama adalah Rp 457,7 triliun.Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Rusman Heriawan mengatakan, triwulan II-2006 merupakan 'masanya' pemerintah. Sebab belanja pemerintah telah memberikan kontribusi yang cukup besar untuk pertumbuhan PDB tersebut."Karena kita percaya dia (belanja pemerintah) memberikan stimulan paling tinggi dibandingkan komponen lainnya," jelas Rusman dalam konferensi pers di kantornya, Jalan Dr Sutomo, Jakarta, Senin (14/8/2006). Konsumsi pemerintah memberi kontribusi sebesar 31,38 persen, ekspor barang dan jasa sebesar 11,3 persen.Impor barang dan jasa yang merupakan kontraksi pada PDB besarnya 8,31 persen. Hanya pembentukan modal tetap bruto yang masih mengalami pertumbuhan negatif sebesar minus 0,98 persen.Tiga sektor yang mengalami pertumbuhan tertinggi adalah sektor pengangkutan dan komunikasi (5,03 persen), listrik, gas dan air bersih (3,48 persen) dan sektor pertanian (3,21 persen).Angka PDB yoy yang hanya 5,22 persen berarti lebih rendah dari target pemerintah sebesar 5,9 persen. Rusman mengaku bahwa hal itu disebabkan karena start anggaran terlambat."Yang pertama, tentu tidak dalam kapasitas BPS. Memang triwulan pertama start-nya terlambat, 4,7 persen setelah direvisi. Tentu kita anggap sangat lambat. Sementara triwulan II-2006, itu normal dengan pertumbuhan 5,22 persen," jelas Rusman.Untuk ke depan, Rusman berharap pertumbuhan PDB bisa lebih baik setelah BI rate diturunkan. "Ada kemauan baik dari perbankan untuk memperlancar kredit. Kemudian kita berharap resources based seperti pertanian itu bisa masih kencang ritmenya untuk ekspor dan tumbuh," tambahnya.BPS sendiri merevisi PDB triwulan I-2006 dari 4,6 menjadi 4,7 persen untuk yoy. Sementara untuk q to q direvisi dari 2,03 persen menjadi 2,14 persen. "Itu cuma persoalan coverage data. Sekarang sudah lengkap. Itu biasa, ada revisi 1,2,3," ujar Rusman.Bukan salah hitung? "Bukan," tegasnya.
(qom/)











































