Realisasi APBN 2007 Jangan Hanya Isapan Jempol

Realisasi APBN 2007 Jangan Hanya Isapan Jempol

- detikFinance
Rabu, 16 Agu 2006 16:16 WIB
Jakarta - Kalangan pelaku usaha mengaku optimistis terhadap paparan APBN 2007 yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Namun realisasi APBN 2007 diharapkan bukan hanya isapan jempol. Dalam APBN 2007 terdapat belanja negara yang mencapai Rp 746,5 triliun. Sedangkan pendapatan APBN 2007 ditargetkan Rp 713,4 trilun, sehingga terdapat defisit Rp 33,1 triliun atau 0,9 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB)."Dari Rp 740 triliun total belanja negara itu, sebesar 70 persen bersumber dari kontribusi pajak dunia usaha, swasta dan BUMN. Tapi seharusnya perbaikan regulasi dan iklim usaha diperbaiki, artinya yang diharapkan Presiden dapat dilaksanakan apabila pemerintahannya punya national leadership, tegas menindak bagi semua yang melakukan penyelewengan, menjamin stabilitas politik dan keamanan," papar Ketua Kadin MS Hidayat.Hal itu diungkapkan Hidayat, usai Pidato Kenegaraan dan Nota Keuangan Presiden SBY di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Rabu (16/8/2006).Pengusaha juga meminta ada political will dari pemerintah untuk segera menyelesaikan RUU yang mendukung pergerakan sektor ril. Pasalnya sejumlah RUU saat ini masih macet di DPR seperti RUU Perpajakan dan Kepabeanan"Karena itu perlu platform untuk menjalankan program ekonomi yang disampaikan Presiden tadi. Selain itu kinerja kerjasama antara pemerintah dan dewan masih harus dibuat lebih smooth karena banyak RUU yang menopang kerja ekonomi masih dibawah parlemen," ujar Hidayat.Hidayat juga mengingatkan, perlunya sektor ril yang bergerak. Pasalnya, jika sektor rill tidak jalan sulit untuk pelaku usaha membayar pajak.Namun Hidayat menyayangkan, paparan SBY yang sama sekali tidak menyinggung masalah UKM. Padahal menurutnya, UKM adalah industri yang labour intensive yang dapat mengurangi pengangguran.Hidayat juga menilai masih ada hal yang mengganjal dalam pidato SBY. Pasalnya, SBY menyebutkan ada penurunan pengangguran dari 11,2 persen pada bulan November 2005 menjadi 10,4 persen pada awal tahun 2006."Bukannya saya sangsi, tapi saya mau cari data itu bersal dari mana. Saya akan tanya BPS karena setahu saya perkembangan terakhir investasi turun dan sektor rill tidak bergerak. Kalau begini biasanya justru tambah pengangguran," tutur Hidayat. (ir/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads