Pidato 16 Agustus
Data Kemiskinan SBY Kadaluwarsa
Sabtu, 19 Agu 2006 13:15 WIB
Jakarta - Data kemiskinan yang digunakan dalam Pidato Kenegaraan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di DPR 16 Agustus lalu, diakui Ketua Badan Pengkajian Ekonomi Keuangan dan Kerja Sama Internasional (Bapekki) Anggito Abimanyu bukan data terbaru.Angka kemiskinan yang dibeberkan SBY di depan DPR menggambarkan penurunan dari 23,4 persen pada 1999 menjadi 16 persen pada tahun 2005.Data tersebut masih dipakai dengan alasan Badan Pusat Statistik (BPS) belum mengeluarkan data terbaru per tahun 2006."Kebetulan saya ikut membantunya melakukan drafting itu, saya kira dari awal tidak ada intention (niat) Presiden untuk menutup-nutupi angka kemiskinan 2006. Tapi itu belum diterbitkan oleh BPS sehingga dipakai angka 2005," kata Anggito.Hal itu disampaikan Anggito usai acara Bincang Sabtu Trijaya di Plasa Semanggi, Jakarta, Sabtu (19/8/2006).Padahal menurut sejumlah ekonom seperti Fadhil Hassan, Dradjad Wibowo, Iman Sugema, Aviliani dan Hendri Saparini, ada data terbaru kemiskinan yang semestinya digunakan.Para ekonom menyebutkan, angka kemiskinan justru mengalami kenaikan, yaitu 16 persen per Februari 2005 menjadi 18,7 persen per Juli 2005 sampai 22 persen per Maret 2006.Anggota DPR Ramson Siagian dari PDIP juga menilai, SBY tidak pantas menggunakan data tahun 1999 karena dirinya baru menjadi Presiden tahun 2004."Angka kemiskinan yang dikemukakan dari tahun 1999 ke Februari 2005 itu tidak elok dikemukakan. Data itu harusnya data dari 2004 hingga sekarang, jadi kelihatan pertumbuhan kemiskinannya," kata Ramson.Ramson menyayangkan, jika penggunaan data lama itu dilakukan hanya untuk menjaga citra SBY, namun kenyataan yang sebenarnya tidak terjadi penurunan kemiskinan tapi malah bertambah."Sekarang SBY harus mencari data dari sumber di lapangan. Bukan membuat dan menjaga citra saja," tegas Ramson.Sementara Anggito berharap, masyarakat tidak berprasangka buruk terhadap penggunaan data yang tidak aktual itu.Meskipun disadari angka kemiskinan yang disampaikan tersebut tidak mencerminkan keadaan terakhir dari situasi kemiskinan di Indonesia."Karena Presiden katakan angka itu masih jauh dari target sasaran kemiskinan yang akan dicapai lima tahun ke depan," ujar Anggito.Selain angka kemiskinan, ekonom juga menggugat data pengangguran yang digunakan SBY, yang menyebutkan pengangguran turun 11,2 persen per November 2005, menjadi 10,4 persen per Februari 2006.Data pengangguran ini dinilai tidak apple to apple (sejenis) yang biasanya menggunakan periode yang sama, yang seharusnya Februari 2005 sebesar 10,2 persen naik menjadi menjadi 10,4 persen per Februari 2006. Sedangkan perbandingan per November belum bisa digunakan karena tahun ini baru sampai Agustus.Ekonom mengakui, penurunan angka pengangguran pada November 2005 lebih disebabkan karena pada bulan itu ada panen raya yang menyebabkan banyak tenaga kerja musiman.
(ir/)











































