Jelang Puasa ,Tekstil Selundupan Bakal Marak
Rabu, 23 Agu 2006 17:09 WIB
Jakarta - Direktorat Jenderal (Ditjen) Bea Cukai meningkatkan pengawasan pelabuhan di beberapa titik rawan. Pasalnya menjelang puasa, makin marak terjadi penyelundupan barang terutama tekstil."Kita tingkatkan pengawasan dengan menurunkan intelijen. Saya instruksikan ke beberapa tempat," kata Dirjen Bea Cukai Anwar Suprijadi, di sela acara seminar reformasi Bea Cukai di Hotel Sahid, Jakarta, Rabu (23/8/2006).Menurut Anwar, produk yang paling rawan penyelundupan menjelang puasa dan lebaran adalah tekstil. Maka itu produk tekstil akan diperketat dengan memasukkan ke jalur hijau maupun merah. Bea Cukai juga akan memanfaatkan fasilitas yang ada dengan maksimal. Sementara Ketua Kepelabuhan dan Kepabeanan Dewan Pengguna Jasa Angkutan Laut Indonesia (Depalindo) Toto Dirgantara mengakui, maraknya penyelundupan tekstil menjelang puasa dan lebaran.Padahal ungkap Toto, harusnya saat puasa dan lebaran menjadi peak seasons bagi industri dalam negeri untuk bisa meningkatkan penjualan.Namun yang terjadi seperti tahun 2005, pedagang dalam negeri malah loss karena pasar dipenuhi barang selundupan yang kebanyakan tekstil dan garmen dari Cina.Toto menjelaskan, kecenderungan penyelundupan semakin meningkat sejak 2002. Sampai-sampai Asosiasi Pertekstilan Indonesia (API) ikut mengeluarkan biaya untuk membantu menangkapi barang-barang ilegal."Pengusaha terpaksa membantu untuk mengatasinya, karena kalau terus terjadi industri dalam negeri berpotensi banyak yang tutup, pengangguran meningkat, investor merasa tidak kondusif lalu cabut modal," kata Toto.Pengusaha mengeluarkan biaya yang salah satunya untuk mencari informan guna mendapat informasi yang akurat mengenai barang selundupan yang masuk. "Karena yang terjadi sekarang polanya di luar baju bekas tapi di dalam baju baru yang siap dipasarkan. Ini merusak pasar karena barang selundupan itu murah," ujar Toto.Depalindo ungkap Toto, selalu mengejar pemerintah agar melakukan tindakan. "Misalnya saya dapat SMS ada kontainer selundupan di suatu tempat yang dilengkapi nomor kontainernya. Lalu saya memberitahu ke Bea Cukai," tuturnya.Menurut Toto, kinerja Bea Cukai masih lambat, karena harus berhadapan dengan mata rantai yang luar biasa. "Kemarin saja kabarnya ada 800 kontainer tekstil masuk," katanya.Depalindo juga mengusulkan ke Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, untuk melakukan pengecekan mundur seperti mendatangi toko dan menanyakan darimana barang tersebut dibeli."Kalau mereka bilang beli dari A notanya harus ditunjukkan. Kalau itu produk impor diminta bukti impornya. Nanti bisa ketahuan pelaku penyelundupannya," jelas Toto.Namun kata Toto, pemerintah seperti berat untuk melakukan hal tersebut. Padahal Departemen Perdagangan memiliki Direktorat Pengawasan Barang yang bisa dimanfaatkan.
(ir/)











































