RI Harus Waspada Melakukan FTA dengan AS
Kamis, 24 Agu 2006 16:56 WIB
Jakarta - Indonesia diperingatkan untuk berhati-hati melakukan Free Trade Area (FTA) dengan Amerika Serikat (AS). Pasalnya hampir seluruh negara yang melakukan FTA dengan AS justru nilai perdagangannya menjadi defisit.Hal ini karena pada implementasinya tak jarang AS melakukan kecurangan. Misalnya di sektor pertanian, AS menerapkan bea masuk produknya ke negara mitra FTA 0 persen. Namun sebaliknya, AS tetap menerapkan pengenaaan bea masuk terhadap produk pertanian dari negara lain karena AS punya UU yang tak boleh menurunkan tarif pertanian.Demikian disampaikan Sanya Reid Smith, Legal Consultant Third World Network, saat menjadi pembicara dalam Forum WTO di Hotel Aryaduta, Jakarta, Kamis (24/8/2006)."Semua negara setelah FTA dengan AS, neraca perdaganganya menjadi defisit kecuali Chili itu pun disebabkan harga copper (tembaga) naik," kata Smith.Dicontohkan Smith, Singapura sebelum melakukan FTA dengan AS mengalami surplus dengan AS sebesar US$ 23 miliar per tahun. Namun setelah menerapkan FTA dengan AS, Singapura malah mengalami defisit 200 persen dan terus bertambah tiap tahunnya.Smith menjelaskan, AS melakukan banyak hal untuk menguntungkan negaranya. Salah satunya dengan proteksi yang memasukkan klausul intellectual property right.Maka itu, ungkap Smith, isi perjanjian harus diteliti benar-benar apakah negara berkembang yang diajak FTA punya comparative advantage dan bisa bersaing dan apakah AS memberikan market access-nya. Harus dipikirkan pula efek yang luas dari sisi sosial, ekonomi, politik bagi masyarakat, mulai dari produk obat sampai pupuk."Indonesia dengan AS saya agak takut, karena kurang berimbang. AS kuat bargaining power, kita bisa lihat apa yang dia minta dengan negara lain. Market access ke situ tidak bisa karena dia tak mau turunkan sampai 0 persen, subsidi tetap ada, punya hambatan non tarif juga intellectual property right dan proteksi investasi," papar Smith.Smith menilai, dalam FTA, AS memang mendorong apa yang dipertahankan negara berkembang, namun AS mencoba lewat pintu belakang saat melakukan FTA. "Negotiating power tidak seimbang, lebih sulit satu negara menahan sendirian tanpa ada kekuatan bersama, seharusnya nego bersama seperti G-33 sehingga punya kekuatan besar," ujar Smith mengingatkan.
(ir/)











































