Tak Bayar Pajak, Petronas dan Chevron Diusir

Tak Bayar Pajak, Petronas dan Chevron Diusir

- detikFinance
Senin, 28 Agu 2006 12:07 WIB
Kuala Lumpur - Raksasa minyak AS ChevronTexaco dan Petronas Malaysia diusir dari negara Chad. Negara kecil di Afrika Tengah itu mengusir dua raksasa minyak tersebut karena tidak membayar pajak!Perintah pengusiran sudah dicetuskan oleh Presiden Chad, Idriss Deby Itno pada Sabtu 26 Agustus 2006. Demikian berita yang dikutip dari AFP, Senin (28/8/2006).Chevron dan Petronas adalah dua dari tiga anggota konsorsium yang menggarap ladang minyak di Chad. Jika Chevron dan Petronas benar-benar pergi, maka hanya akan tersisa ExxonMobil di negara kecil tersebut.Presiden Deby dalam pidatonya mengatakan, pemerintah Chad dan Exxon akan bekerjasama untuk memproduksi minyak setelah diusirnya Petronas dan Chevron. "Itu dilakukan sambil menunggu untuk mencari solusi dengan dua partner lainnya," ujar Deby.Negara dengan penduduk sekitar 10 juta jiwa itu juga berniat untuk melakukan negosiasi ulang atas kontrak-kontrak minyaknya dengan konsorsium AS-Malaysia yang sudah diteken pada tahun 1988. Presiden Deby menambahkan, tiga menteri akan dihentikan terkait dengan masalah ini.Ancaman Chad ini tampaknya tidak diabaikan begitu saja oleh pemerintah Malaysia selaku pemilik mayoritas saham Petronas. Perdana Menteri Malaysia, Abdullah Ahmad Badawi telah memerintahkan investigasi secepatnya atas pengusiran Petronas itu.Badawi telah memerintahkan Presiden Petronas memimpin langsung investigasi itu dan mengirimkan sebuah tim ke Chad."Saya ingin Petronas mengambil tindakan cepat karena ini adalah isu yang sangat serius," cetusnya.Badawi mengaku cukup terkejut dengan keputusan Chad tersebut. "Ini adalah kejutan yang besar bagi saya. Ini sepertinya tidak mungkin (dilakukan) oleh perusahaan dengan kredibilitas seperti Petronas," tegasnya.Namun ia menegaskan, pemerintah Malaysia tidak akan turut campur dalam masalah tersebut karena penyelesaiannya menjadi tanggung jawab Petronas. "Mereka (Petronas) harus bertindak sangat cepat karena peringatan itu sangat serius," tegasnya.Chad adalah sebuah negara miskin bekas jajahan Prancis yang terbesar. Pada tahun 1990-an, sekitar 75 persen penduduk Chad hidup dalam kemiskinan. Namun semenjak tahun 2000, keadaan Chad terus membaik karena pendapatan per kapitanya sudah melebihi US$ 1.000.Chad mulai menghasilkan minyak pada tahun 2003, dengan produksi awal sekitar 200.000 barel per hari. Semenjak itu perekonomiannya tumbuh pesat hingga 40 persen karena ekspor minyak mentahnya dimulai. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads