Ketua APGAI:
Senayan City Tolak Produk Lokal
Senin, 28 Agu 2006 14:24 WIB
Jakarta - Produk dalam negeri kembali tidak bisa menjadi tuan rumah di negaranya sendiri. Kini giliran pemasok garmen dan aksesoris lokal yang tidak boleh membuka gerai di Senayan City.Sebelumnya sebuah produk kencatikan Sari Ayu juga mengeluh tidak bisa menjual produknya di mal-mal ternama. "Saya worry sekali kita tidak didukung oleh pemerintah, keberadaan kita makin terpojok apalagai setelah Senayan City yang saat ini satu-satunya mal yang tidak membolehkan masuk brand lokal," kata Ketua Harian Asosiasi Pemasok Garmen dan Aksesoris Indonesia (APGAI) Suryadi Sasmita.Hal itu disampikan Suryadi saat jumpa pers mengenai Indonesia Textil and Apparel Fair (ITAF) di Hotel Four Seasons, Jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta, Senin (28/8/2006). Perlakuan diskriminatif juga, kata Suryadi, menyangkut harga sewa. Brand lokal diberikan harga sewa lebih tinggi dan lokasinya second priority.Suryadi mencontohkan brand internasional menyewa tempat dengan harga Rp 250 ribu per meter persegi. Sedangkan brand lokal harus membayar Rp 400 ribu per meter persegi."Seolah-olah kita memberikan subsidi kepada harga sewa brand internasional," ujar Suryadi.Omset merek lokal, ungkap Suryadi, yang semula Rp 50-100 miliar per tahun kini turun 20-30 persen karena selalu terpinggirkan.Selain karena ada biaya tinggi, produk lokal juga terpinggir ada perang diskon dengan brand asing. "Misalnya Zara baru buka sudah diskon 50 persen. Oakley itu 80 persen dan Mark and Spencer juga diskon gede-gedean," tutur Suryadi.Namun APGAI tidak menyalahkan upaya yang dilakukan itu karena merupakan strategi pemilik mal.Saat ini dari 500 anggota APGAI ada sekitar 100 brand yang sudah tidak beredar, karena sulit bersaing dengan merek internasional yang lebih dipilih masyarakat.Untuk itu Suryadi berharap, pemerintah juga memberi perhatian kepada pelaku bisnis lokal.
(ir/)











































