Data Kemiskinan Disarankan Pakai BLT
Selasa, 29 Agu 2006 11:59 WIB
Jakarta - Badan Pusat Statistik (BPS) disarankan menggunakan data Bantuan Langsung Tunai (BLT) dalam mendata angka kemiskinan. Metode penghitungan BPS selama ini dinilai tidak akurat.Sebab BPS dalam membuat angka kemiskinan hanya menggunakan sampel 50 ribu atau 0,1 persen dari jumlah populasi di Indonesia."Kita minta sampel lebih akurat dengan penambahan jumlah yang disensus. Memang ini nanti terbentur dengan anggaran. Namun kita putuskan untuk mendapatkan angka akurat," kata Menneg PPN/Kepala Bappenas Paskah Suzetta.Hal itu disampaikan Paskah di sela Munas Asosiasi Perencanaan Pemerintah Indonesia (AP2I) di Hotel Bumikarsa, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (29/8/2006).Menurut Paskah, dengan jumlah sampel yang hanya 50 ribu atau 0,1 persen dari populasi penduduk di Indonesia, maka sulit mendapatkan angka kemiskinan yang akurat.Sementara dengan memakai data BLT, jumlah yang didata lebih banyak mencapai 19,2 juta KK dengan jumlah anggota keluarga rata-rata empat orang.Dalam penghitungan BLT, menurut Paskah, sudah melalui verifikasi yang merupakan angka implementatif."Sekarang datanya mau dipakai data BLT atau sensus untuk menghitung kemiskinan. Untuk operasional saya putuskan pakai data BLT yang datanya 19,2 juta KK kali empat anggota keluarga. Inilah data operasional. Saya minta metode semacam ini seharusnya juga disampaikan ke BPS bukan hanya angka-angka," papar Paskah.Paskah juga meminta BPS memberikan jadwal yang teratur untuk angka kemiskinan ini yang semula tahunan bisa diganti menjadi triwulan."Penyampaiannya harus pada waktu yang tepat. Seperti halnya penghitungan inflasi," imbuh Paskah.Penyampaian angka sensus harus disertai keterangan metodenya. Meski demikian Paskah menegaskan, pemerintah tidak akan melakukan intervensi terhadap kinerja BPS.Angka kemiskinan menjadi sorotan publik sejak Presiden SBY menyampaikan pidato di DPR pada 16 Agustus lalu dengan menggunakan angka lama.SBY menyebut ada penurunan angka kemiskinan hingga Maret 2005, sementara faktanya angka kemiskinan terus naik tahun 2005.
(ir/)











































