ADB Perkirakan Pertumbuhan RI Hanya 5,4% Tahun 2006
Rabu, 06 Sep 2006 10:57 WIB
Manila - Bank Pembangunan Asia (ADB) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2006 hanya sebesar 5,4 persen. Angka itu lebih rendah dari proyeksi pemerintah Indonesia yang sebesar 5,9 persen.Namun angka pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi akan terus membaik dan mencapai 6 persen pada tahun 2007. Sementara inflasi pada tahun 2006 diprediksi akan berkisar pada angka 8 persen, atau sama dengan proyeksi pemerintah.Demikian laporan "Asian Development Outlook 2006" yang dirilis oleh ADB seperti dikutip dari situsnya, Rabu (6/9/2006).Presiden SBY sendiri sebelumnya tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai dua kali lipat dalam jangka waktu 10 tahun mendatang. Dalam laporan itu disebutkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia selama semester I-2006 masih tertahan oleh rendahnya konsumsi akibat tingginya suku bunga, tingginya inflasi dan meningkatnya pengangguran.Untuk pertumbuhan pada tahun 2006 dan 2007 masih akan ditopang terutama dari permintaan domestik, yang distimulasi terutama oleh kebijakan fiskal.ADB mencatat, Indonesia sudah mengalami perbaikan iklim investasi. Namun perbaikan itu dipandang belum cukup jika Indonesia ingin meraih target pertumbuhan 6,6 persen dalam jangka menengah.Lemahnya investasi telah mengurangi daya saing Indonesia dalam beberapa tahun terakhir. Hal itu tak hanya terkait kurangnya investasi di sektor manufaktur, namun juga transportasi, pelabuhan dan infrastruktur lainnya yang berdampak pada biaya-biaya yang harus dikeluarkan para eksportir.Proyeksi Ekonomi AsiaUntuk pertumbuhan Asia secara keseluruhan, ADB memrediksi angkanya mencapai 7,7 persen pada tahun 2006. Namun pertumbuhan akan melambat jadi 7,1 persen pada tahun 2007."Pertumbuhan yang cepat dari Asia dipicu oleh kuatnya performa Cina, India. Kedua negara itu jika digabungkan mencapai 50 persen dari PDB regional," ujar Chief Economist ADB Ifzal Ali.Jika minus Cina dan India, maka pertumbuhan kawasan Asia hanya mencapai 5,5 persen pada tahun 2006 dan menjadi 5,1 persen pada tahun 2007. Menurut Ali, negara-negara lain mestinya bisa memanfaatkan kuatnya pertumbuhan Cina dan India tersebut.
(qom/)











































