RI Kian Tak Nyaman untuk Berbisnis

RI Kian Tak Nyaman untuk Berbisnis

- detikFinance
Rabu, 06 Sep 2006 14:01 WIB
Jakarta - Jika Singapura terpilih sebagai tempat terbaik untuk berbisnis, maka Indonesia justru semakin tidak nyaman untuk berbisnis. Hal itu terlihat dari peringkat kemudahan berbisnis di Indonesia yang turun dari 131 menjadi 135 pada tahun 2006 ini. "Indonesia mengalami kemajuan, namun negara lain perkembangannya lebih pesat," ujar General Manager IFC for Techincal Assistance Work Indonesia Chris Richards dalam jumpa pers mengenai 'Doing Business 2007' di Kantor Bank Dunia, Gedung BEJ, Jl Sudirman, Jakarta, Rabu (6/9/2006).Survei IFC dan Bank Dunia ini merupakan survei tahunan dan dilakukan terhadap 175 negara.Dengan peringkat 135, Indonesia kalah dibandingkan negara di kawasan Asia Tenggara lainnya. Misalnya Thailand di posisi 18, Malaysia urutan 25, dan dan Vietnam di posisi 104. Singapura bahkan menggeser posisi Selandia Baru sebagai negara terbaik untuk berbisnis.Indonesia bahkan dikalahkan oleh Bangladesh dan Srilanka yang menempati urutan masing-masing 88 dan 89.Namun ada perkembangan bagus buat Indonesia dari sisi memulai usaha. Untuk mendirikan usaha baru di Indonesia kini hanya 97 hari, dari sebelumnya memerlukan waktu 151 hari. Hal ini terjadi karena adanya percepatan persetujuan dokumen pendirian perusahaan di Deartemen Kehakiman.Dari sisi biaya, juga mengalami penurunan. Persentase biaya terhadap pendapatan per kapita mencapai 86,7 persen. Sebelumnya 101,7 persen.Untuk memperbaiki peringkatnya, Indonesia harus memberikan prioritas utama untuk memperbaiki iklim investasi."Maka untuk memperbaiki urutannya, Indonesia harus bekerja lebih banyak dan lebih cepat untuk menyederhanakan prosedur dan menciptakan iklim yang bersahabat bagi usaha," ujar Kepala Perwakilan Bank Dunia untuk Indonesia Andrew Steer.Namun survei ini tidak mencerminkan perkembangan terkini Indoneisa. Pasalnya data survei diambil mulai Januari 2005 sampai Januari 2006.Hal ini diakui oleh Steer yang beralasan, survei baru dapat dikeluarkan pada saat ini karena jumlah negara yang begitu banyaknya yakni 175 negara."Memang lama. Iya, karena ribuan survei telah dilaksanakan, dan datanya harus akurat, laporannya ditulis, ya memang lama," ujarnya.Untuk melihat perkembangan yang lebih terkini, Bank Dunia bekerja sama dengan LPEM akan mengeluarkan laporan mengenai investasi di Indonesia pada bulan November mendatang."Ada perkembangan dari sisi iklim investasi di Indonesia. Saya sangat optimis dengan investasi di Indonesia," ujarnya. (qom/)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads