PPATK Belum Akan Telusuri Dana Orang-orang Terkaya

PPATK Belum Akan Telusuri Dana Orang-orang Terkaya

- detikFinance
Kamis, 07 Sep 2006 12:26 WIB
Jakarta - Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) belum berniat untuk menyelidiki asal-muasal harta dari orang-orang yang masuk dalam daftar terkaya se-Indonesia."Kalau halal nggak perlu," tegas Ketua PPATK Yunus Husein kepada detikcom, Kamis (7/9/2006).Selama ini yang masuk daftar uangnya halal? "Kita tidak akan bergerak kalau tidak ada permintaan dari penegak hukum," tegasnya.Majalah Forbes dalam edisi yang akan terbit 18 September 2006 akan merilis daftar 10 orang terkaya se-Indonesia. Sepuluh orang terkaya di Indonesia itu adalah:1. Sukanto Tanoto (US$ 2,8 miliar)2. Putera Sampoerna (US$ 2,1 miliar)3. Eka Tjipta Widjaja (US$ 2 miliar)4. Rahman Halim (US$ 1,8 miliar)5. R Budi Hartono (US$ 1,4 miliar)6. Aburizal Bakrie (US$ 1,2 miliar)7. Eddy Katuari (US$ 1 miliar)8. Trihatma Haliman (US$ 900 juta)9. Arifin Panigoro (US$ 815 juta)10. Liem Sioe Liong (US$ 800 juta).Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sudah berniat akan mempelajari laporan dari majalah Forbes tentang daftar orang kaya se-Indonesia. Terlebih terhadap kekayaan yang dimiliki Menko Kesra Aburizal Bakrie.Berdasarkan Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara (LHKPN) per 31 Desember 2005, Ical memiliki harta senilai Rp 1.329.705.879.583 (Rp 1,329 triliun).Harta Ical ini bertambah Rp 139 miliar sejak dia menjabat sebagai Menko Perekonomian atau senilai Rp 1.190.139.383.713 (Rp 1,190 triliun) per 29 Oktober 2004.Dalam daftar harta kekayaan Ical, disebutkan kekayaan bos Grup Bakrie itu dalam bentuk surat berharga pada 29 Oktober 2004 nilainya Rp 1.154.594.970.000 (Rp 1,154 triliun) dan pada 31 Desember 2005 meningkat sekitar Rp 130 miliar menjadi Rp 1.286.162.120.343 (Rp 1,286 triliun).Terungkap juga pada 2004, Aburizal mempunyai utang senilai US$ 35 juta dan pada 2005 meningkat menjadi US$ 36.451.828 (US$ 36,45 juta).Deputi Bidang Pencegahan KPK Waluyo mengatakan, pihaknya akan terlebih dahulu mempelajari laporan Forbes tersebut. (qom/sss)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads