Pemerintah Desak agar Pupuk Segera Didistribusikan
Sabtu, 09 Sep 2006 01:15 WIB
Jakarta - Pemerintah mendesak para pabrik pupuk untuk segera mendistribusikan pupuknya. Distribusi ini penting untuk mengingat pupuk sudah menumpuk di gudang-gudang. Pupuk-pupuk itu akan didistribusikan ke gudang ibukota Provinsi dan Unit Pengantongan Pupuk (Linio II) maupun gudang Distributor pupuk dan atau Produsen di wilayah Kabupaten/ Kotamadya yang ditunjuk/ditetapkan oleh Produsen (lini III)."Wajar saja terjadi penumpukan, Saya sudah meminta stok yang menumpuk itu dikirim ke lini III agar tidak menumpuk banyak saat kebutuhan mendadak melonjak. Sekarang sih hampir di semua gudang pabrik pupuk penuh. Kan ekspor masih ditutup karena karena produksi yang terbatas," kata Dirjen Industri Agro dan Kimia Departemen Perindustrian (Deperin) Benny Wahjudi saat ditemui di kantornya, Jl Gatot Subroto, Jakarta, Jumat (9/9/2006).Hal ini untuk mengantisipasi kelangkaan pupuk musim tanam yang jatuh pada bulan Oktober, yang diprediksi akan ada lonjakan permintaan 66% dibanding bulan sebelumnya. Departemen Perindustrian menegaskan bertumpuknya stok tak akan diterima sebagai alasan untuk meminta rekomendasi ekspor karena produksi dan kebutuhan seimbang.Benny menjelaskan penyerapan rendah karena ada dua siklus musim. Siklus pertama, adalah April-September kebutuhan pupuk 40%, pada umumnya sawah di Pulau Jawa masih tetap karena musim kemarau. Sehingga pada Oktober sampai Maret saat musim penghujan kebutuhan pupuk akan meningkat kebutuhan menjadi 60%."Kebutuhan akan meningkat luar biasa, biasanya kalau normal 300 ribu ton per bulan. Tapi kalau pada puncaknya di bulan Oktober sampai Maret bisa mencapai 500 ribu ton per bulan," jelasnya.Menurutnya sampai saat ini belum ada yang minta rekomendasi untuk ekspor dan pihaknya menyertakan sementara ini tidak akan memberikan rekomendasi untuk ekspor. "Kebutuhan pupuk yang disubsidi 4,3 juta ton, kebutuhan kebun dan industri itu 1,2 juta, dan kebutuhan lain-lain yang bisa mencapai 200 ribu ton sehingga total 5,7 juta ton," paparnya. Dia menjelaskan, saat ini produksi pabrik-pabrik pupuk juga terbatas akibat kekurangan gas. Kondisi seperti ini akan membuat produksi pupuk menjadi tidak optimal. "Intinya, produksi dan kebutuhan untuk tahun ini pas-pasan, jadi tidak ada alasan untuk ekspor," tandasnya.
(ary/)











































