IMF: Cina dan India Topang Pertumbuhan Ekonomi Asia
Kamis, 14 Sep 2006 10:23 WIB
Singapura -
Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan kawasan Asia masih akan mencatat pertumbuhan ekonomi yang mengesankan. Dua motor utama penggerak perekonomian Asia adalah Cina dan India.IMF memrediksi pertumbuhan ekonomi Asia akan mencapai 8,3 persen pada tahun 2006 dan 8,2 persen pada tahun 2007. Pada tahun 2005, pertumbuhan ekonomi Asia mencapai 8,5 persen.Demikian hasil kajian dua tahunan IMF yang terangkum dalam laporan 'World Economic Outlook' seperti dikutip dari situsnya, Kamis (14/9/2006). Laporan ini dikeluarkan bersamaan dengan rangkaian pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia yang berlangsung di Singapura."Asia masih akan tumbuh dengan pesat, yang merefleksikan kondisi perekonomian global, berlanjutnya pertumbuhan ekonomi yang tinggi di Cina dan penurunan yang moderat dari India setelah sebelumnya mencatat pertumbuhan pesat pada tahun 2005 dan awal 2006," demikian pernyataan dari IMF.IMF memrediksi perekonomian Cina akan tumbuh sekitar 10 persen pada tahun 2006 dan 2007. Sementara India akan tumbuh sekitar 8,3 persen pada 2006 dan 7,3 persen pada 2007.Sedangkan Jepang akan tumbuh sekitar 2,7 persen pada tahun 2006 dan 2,1 persen pada tahun 2007.Untuk Indonesia, Thailand, Filipina dan Malaysia secara kolektif diharapkan tumbuh sekitar 5 persen pada tahun 2006 dan menjadi 5,6 persen pada tahun 2007.Meski mencatat pertumbuhan yang mengesankan, namun IMF tetap memberikan catatan atas beberapa risiko yang akan dihadapi oleh kawasan Asia. Risiko itu antara lain:1. Melambatnya perekonomian AS dan Jepang, yang merupakan tujuan ekspor utama Asia. 2. Rentannya perekonomian Cina yang sudah tumbuh sangat mengesankan3. Ancaman flu burung yang hingga kini belum reda4. Tak kunjung selesainya perundingan perdagangan bebas Putaran Doha.Tak lupa, IMF juga mencermati jumlah utang publik atau defisit anggaran yang cukup besar negara-negara Asia terutama Filipina, India dan Indonesia. Ketiga negara ini disarankan untuk meningkatkan posisi fiskalnya.Khusus untuk Indonesia dan Filipina, IMF menilai struktur utang publik berhubungan dengan risiko mata uang. Konsolidasi fiskal dan perbaikan komposisi utang akan mengurangi risiko atas utang tersebut.
(qom/)










































