Proyek Tabung Elpiji Terancam Molor
Senin, 18 Sep 2006 12:42 WIB
Jakarta - Proyek pengadaan tabung elpiji, terkait program konversi minyak tanah ke elpiji, yang direncanakan selesai tahun ini dikhawatirkan akan molor tahun depan.Tertundanya pengadaan 800 ribu tabung elpiji karena ketidaksanggupan para peserta tender untuk memenuhi jumlah tabung itu."Kalau mereka tidak siap 800 ribu, kita undur tahun depan saja. Merekaterkendala akan pasokan plat bajanya," kata Direktur Pemasaran dan NiagaPertamina, Ahmad Faisal, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/9/2006).Pertamina telah mengundang 14 perusahaan dan menanyakan soal kesiapannya."Kita minta 14 perusahaan itu sanggup berapa? Kalau tidak, ya pakai yangsanggupnya saja berapa, sisanya kita impor," katanya.Impor tabung kemungkinan akan didatangkan dari Cina atau Thailand. "Dan kalau banyak, bisa Cina yang lebih murah sedikit," ungkap Faisal.Diakui Faisal, masalah lainnya adalah saat ini memang belum ada modulbentuk tabung elpiji itu. Selain dengan plat baja, tabung elpiji itu bisadibuat dengan memakai fiber. "Tapi fiber ini mahal sekali," katanya.Pabrik baja Krakatau Steel (KS), kata Faisal, menyatakan kesiapannya untuk pengadaan plat baja.Namun, KS menyatakan tidak akan mampu untuk memenuhi kebutuhan plat bajasebanyak 800 ribu tabung elpiji."Tapi kita tetap maksimalkan produksi dalam negeri, selama harga tidak lebih 15 persen. Tahun ini 800 ribu tabung dan tahun depan lebih banyak lagi," urainya.Menanggapi tertundanya pengadaan tabung elpiji, anggota Komisi VII DPR Ramson Siagian menyatakan, molornya pengadaan tabung elpiji ini bukti pemerintah tidak siap dalam program konversi elpiji ini."Padahal kuota minyak tanah yang sebesar 9,9 juta kiloliter pada RAPBN2007 itu sudah termasuk konversi. Bagaimana kalau tidak siap," cetusnya.
(ir/sss)











































