Bulog Terbebani Tingginya Bunga Bank
Senin, 18 Sep 2006 14:46 WIB
Jakarta - Badan Urusan Logistik (Bulog) harus membayar bunga bank Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun per tahun kepada bank komersial yang memberatkan keuangan perusahaan.Bunga komersial tersebut muncul dari pinjaman Bulog kepada sejumlah bank seperti Bank Mandiri, BRI dan Bukopin yang mencapai Rp 8,3 triliun.Pinjaman komersial tersebut terpaksa dilakukan Bulog, lambatnya dana penggantian oleh pemerintah atas pengadaan beras."Kami terpaksa cari kredit komersial itu sekitar Rp 8,3 triliun dengan bunga 15-16 persen. Jadi kami harus bayar bunga perbankan Rp 800-900 miliar bahkan Rp 1 triliun," kata Dirut Perum Bulog Widjanarko Puspoyo.Hal itu disampaikan Widjanarko dalam rapat dengar pendapat (RDP) dengan Komisi XI soal BUMN penerima public service obligation (PSO) di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (18/9/2006).Sesuai Inpres Nomor 13 Tahun 2005 tentang Kebijakan Perberasan, Bulog ditugaskan membeli 6-7 persen dari produksi beras nasional.Untuk pembelian tersebut Bulog membutuhkan anggaran per tahun sebesar Rp 8 triliun.Widjanarko menjelaskan, pengadaan beras memang menjadi tugas Bulog. Namun pendanaannya menjadi tugas pemerintah.Sayangnya, ungkap Widjanarko, seringkali untuk pengadaan dana tersebut Bulog harus mencari dana sendiri."Jadi uang kami yang dikeluarkan untuk beli gabah pada Januari, itu nanti pembayarannya oleh pemerintah bisa 8 bulan kemudian, sehingga beban bunga akan menjadi berat," tutur Widjanarko.Untuk mengatasi masalah ini, Widjanarko menyarankan, harus ada peningkatan secara gradual untuk dana PSO dari pemerintah ke BUMN, agar pelaksanaan tugas PSO bisa lebih baik.
(ir/sss)











































