Industri Tenun Belum Bisa Saingi Batik
Senin, 25 Sep 2006 17:35 WIB
Jakarta - Potensi industri tenun nasional belum tergali secara maksimal akibat tidak berkembangnya sistem manajemen produksi. Padahal jika digarap serius tenun diprediksi bisa menyaingi produk batik yang sudah lebih dahulu menjadi ikon tekstil nasional.Demikian disampaikan Dirjen Industri Kecil dan Menengah Departemen Perindustrian (Depperin) Sakri Widhianto, saat konfrensi pers gelar tenun tradisional Indonesia yang akan berlangsung 27 September-1 Oktober 2006, di Gedung Depperin, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (26/9/2006).Besarnya potensi sektor ini menurut Sakri, terlihat pada nilai ekspor tahun 2005 yang mencapai US$ 11 juta. Namun angka dari BPS itu belum memasukkan pembelian partai kecil. "Belum lagi potensi non-material seperti disain yang banyak ditiru oleh disainer luar negeri, angkanya bisa mencapai US$ 2,2-2,5 juta," kata Sakri.Menurut Sakri, kelemahan produsen tekstil tradisional saat ini terletak pada manajemen produksi. Sakri menjelaskan, dari 160.000 produsen tekstil tradisional kebanyakan tidak mau membuka diri untuk mengembangkan disain dan teknik baru, karena ada aturan adat yang melarang hal tersebut.Untuk menggali potensi tersebut, Depperin tutur Sakri, bersama 10 disainer nasional telah melakukan studi mengenai disain tenun tradisional di 7 daerah.Studi itu mencakup tenun dari NTT, Sumatera Utara, Sumatera Selatan, Sumatera Barat, Kalimantan Barat, Makassar dan Jawa Tengah. "Setiap disainer ditugasi melakukan kajian motif disain satu daerah. Nanti hasilnya akan digelar pada gelar tenun Nusantara 27 september hingga 1 Oktober," ujarnya.Sementara perancang busana Samuel Wattimena mengakui, besarnya potensi kain tenun tradisional. Hal ini karena Indonesia memiliki campuran budaya dan teknik produksi tinggi."Selembar songket kualitas tinggi ada yang harganya Rp 150 juta," ujar Samuel.
(ir/ir)











































