General Electric Kembali Bikin Lokomotif di Indonesia
Jumat, 29 Sep 2006 15:35 WIB
Jakarta -
Setelah sempat keluar karena iklim yang tak kondusif, kini General Electric (GE) akan kembali membuat lokomotif di Indonesia. Kali ini menggandeng PT INKA. Dalam kerjasama ini, GE akan menyediakan teknologi, sementara pembuatannya akan dilaksanakan di INKA.Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Hatta Rajasa usai mendampingi Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) menerima Chairman dan CEO GE Jeffrey R. Immelt di Kantor Presiden, Jakarta, Jumat (29/9/2006). Turut hadir dalam kesempatan tersebut Menko Perekonomian Boediono. "Memang GE akan meningkatkan investasinya untuk membangun lokomotif di PT INKA. Ini ada skema yang sangat bagus kerjasama antara GE dengan INKA," jelas Hatta.BUMN lainnya yakni PT Barata juga akan mensupport dengan membangun boogie frame dan casting. "Tidak hanya untuk pasar domestik, tapi juga bisa dikembangkan ekspor," ungkap Hatta.Menurut Hatta, pembuatan lokomotif di INKA dengan teknologi GE saat ini sudah berjalan. Hanya saja, komponen lokal yang digunakan masih sangat minim, yakni hanya 15 persen. "Secara bertahap akan dinaikkan. Kalau nanti sudah sampai pada tingkatan lisence and assembling, kita sudah bisa sampai 30% untuk lokal content," tambahnya.Hatta menjelaskan, GE kembali tertarik berinvestasi ke Indonesia setelah melihat kondisinya yang terus membaik. Saat ini, Indonesia paling tidak membutuhkan sekitar 200 lokomotif."Jadi market-nya ada dan kita tidak perlu lagi membeli dari luar dalam bentuk utuh. Tapi bisa membangun sendiri di INKA," tambahnya.Untuk nilai investasi GE, Hatta tidak memberi angka tepat. Yang pasti, kata dia, untuk satu lokomotif, harganya mencapai US$ 1,8-2 juta. "Dan itu semua finance-nya oleh GE," katanya. Produksi lokomotif di INKA dengan teknologi GE diharapkan bisa mencapai 15-20 unit per tahun. "Tahun ini 4 dan baru selesai 2. Tahun depan kita targetkan paling tidak 50," jelasnya.Pembuatan lokomotif di dalam negeri, akan memberi penghematan yang cukup besar. Selain itu, akan ada multiplier effect yang berupa tenaga kerja yang diserap dan barang-barang lokal yang dipakai.Namun mengenai kepastian skema pembiayaan, menurut Hatta, saat ini masih digodok. "Tentunya INKA harus membayar. Nanti pembayarannya dari mana, ya, bersumber dari income. Income dari mana? Ya batubara, pengangkutan dan soft loan," tandasnya.
(qom/nrl)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































