Terendah Sejak Februari
Harga Minyak Terjun ke US$ 58
Rabu, 04 Okt 2006 09:01 WIB
New York - Harga minyak dunia kembali terjun bebas hingga ke level US$ 58 per barel, atau terendah sejak Februari 2006 lalu. Kuatnya cadangan minyak AS yang merupakan konsumen terbesar dan kian membaiknya kondisi geopolitik di Iran semakin melegakan pasar.Kontrak utama New York pada perdagangan Selasa (4/10/2006) untuk minyak jenis light pengiriman November anjlok hingga US$ 2,35 menjadi US$ 58.68 per barel.Sementara di London, minyak jenis Brent dalam perdagangannya ditutup turun US$ 2,02 dolar ke level US$ 58,43 per barel.Kedua kontrak itu turun hingga seperempatnya dari rekor tertinggi yang dicapai pada Juli dan Agustus lalu di level US$ 78 per barel."Beberapa isu yang telah membuat harga minyak naik pada musim panas, kini telah berbalik," ujar Adam Sieminski, kepala ekonom energi di Deutsche Bank seperti dikutip dari AFP, Rabu (4/10/2006)."Para pialang pasar minyak terus khawatir bahwa perekonomian global akan terus melemah dan cadangan (minyak) akan meningkat. Sementara musim badai di AS telah mereda dan pembicaraan antara PBB dan Iran berkaitan dengan pengayaan uranium terus berlanjut," tambahnya.Para pialang tampaknya mengacuhkan keputusan Nigeria dan Venezuela yang telah memangkas produksi minyaknya sejak 1 Oktober lalu. Meski tingkat produksi kedua negara OPEC ini dipangkas, namun jumlah cadangan dunia dinilai masih cukup. Keputusan kedua negara itu sempat membuat harga minyak terlontar hingga US$ 63 per barel, sebelum akhirnya surut kembali di bawah level US$ 60 per barel.
(qom/qom)











































