Depperin Tolak Rencana Pertamina Impor Tabung Elpiji
Senin, 09 Okt 2006 14:33 WIB
Jakarta -
Rencana impor tabung elpiji oleh Pertamina mulai mendapat penolakan. Departemen Perindustrian (Depperin) meminta Pertamina mengurungkan niatnya untuk mengimpor tabung elpiji dalam program konversi BBM tersebut.Depperin telah mendapat jaminan dari 14 pengusaha tabung elpiji yang tergabung dalam Asosiasi Tabung Baja (Asitab) bahwa mereka sanggup memasok seluruh kebutuhan atau 800 ribu unit tabung. Asalkan pesanan tersebut dibagi dalam dua tahap hingga 2007."Depperin maunya jangan diimpor, kalau diberikan ke industri dalam negeri maka akan terbuka lapangan pekerjaan dan penciptaan nilai tambah. Kenapa mesti impor? Maksimalkan dulu dalam negeri. Bahkan Pak Fahmi (Menperin) telah mengirim surat ke Pertamina mengenai hal ini, tapi belum dibalas," kata Dirjen Industri Logam Mesin, Tekstil dan Aneka Depperin, Ansari Bukhari.Hal itu disampaikan Ansari di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (9/10/2006).Pertamina memang sudah melakukan tender tabung pada awal September lalu. Darihasil tender, belum ada yang sanggup memenuhi hingga 800 ribu unit, sehingga tender pertama batal.Sementara pada tender kedua menentukan berapa masing-masing perusahaan bisa supply tabung sampai akhir tahun. Berdasarkan data perusahaan dalam negeri hanya sanggup membuat 650 ribu unit hingga Desember 2006. Kekurangan inilah yang membuat Pertamina berencana mengimpor tabung elpiji.Namun menurut Ansari, pengusaha dalam negeri telah menyatakan sanggup memenuhi pesanan 800 ribu unit, asalkan diberi waktu pembuatan yang lebih panjang. Misalnya, ungkap Ansari, diberi waktu sampai Maret 2007.Apalagi saat ini ke 14 perusahaan itu sedang melakukan investasi untuk mould (cetakan) tabung gas ukuran 3 kilogram (kg), mengingat selama ini mereka hanya memproduksi tabung untuk 12 kg atau 15 kg.Perusahaan yang telah melakukan investasi itu satunya WIKA yang mengeluarkan modal untuk mould 3 kg hingga Rp 5 miliar."Saran kami lebih baik semua dikasih ke dalam negeri dengan membagi dua tahap program 2006 sebanyak 650 ribu unit, program 2007 sebesar 150 ribu unit," ujar Ansari.Masalahnya saat ini, ungkap Ansari, ada perbedaan harga yang cukup signifikan antara tabung lokal Rp 105 ribu, sedangkan harga impor dari Cina hanya Rp 81 ribu."Berdasarkan aturan kalah harga dalam negeri lebih mahal 15 persen bisa ditolerir, yang jadi pertanyaan, kenapa harga produksi Cina lebih murah, bisa karena kualitas lebih rendah atau bahan baku di sana lebih murah," tutur Ansari. Sementara kalau menggunakan peraturan Menperin tentang proyek pemerintah yang wajib menggunakan produk lokal (tingkat kandungan dalam negeri) itu baru berlaku 1 Januari 2007."Sekarang tinggal political will Pertamina untuk menggunakan produk lokal, karena Krakatau Steel sebagai pemasok bahan baku baja menyatakan sanggup memasok 8 ribu ton sebagai bahan baku 800 ribu unit tabung gas," jelasnya.Sementara menurut Ketua Asitab, Tjitadi, meski sudah mengecilkan marginnya dengan penawaran Rp 90 ribu per unit, namun Pertamina masih menyatakan harga itu kemahalan dan minta harga ditekan lagi.Pertamina melihat harga jual tabung Cina FOB US$ 5,8 per ton plus bea masuk 15 persen sehingga harga jual tabung Cina Rp 69 ribu."Produsen dalam negeri jadi maju mundur ikut tender karena harga. Pertamina mengatakan kemungkinan besar penunjukan langsung dengan harga nego be to be," kata Tjiptadi.Rencananya Asitab dan Pertamina akan kembali melakukan negosiasi harga lagi pada Jumat 13 Oktober 2006.Menurut Tjiptadi, kendala tidak bisa memproduksi 800 ribu unit pada tahun ini lebih karena delivery dari Krakatau Steel, baru datang pada pertengahan November sehingga waktu pembuatannya sangat mepet.
(ir/sss)
Anda menyukai artikel ini
Artikel disimpan










































