Industri Elektronik RI Belum Mandiri

Industri Elektronik RI Belum Mandiri

- detikFinance
Selasa, 10 Okt 2006 17:22 WIB
Jakarta - Minimnya sumber daya manusia yang memiliki keterampilan untuk menjalankan industri mold and dies (cetakan plastik dan besi) membuat industri elektronik Indonesia sangat tergantung pada cetakan impor. Selain itu tingginya investasi untuk fasilitas permesinan mold and dies yang dibutuhkan US$ 3-4 juta, serta lambannya pengembalian return on investment (ROI) hingga 10-20 tahun menjadi salah satu kendala."Mold and dies impor untuk TV 65,9 persen, kulkas 59,6 persen, AC84,2 persen, mesin cuci 65 persen," kata Heru Santosa, Ketua Komite Ekonomi Indonesia Jepang-Kadin.Hal itu disampaikan Heru, saat konferensi pers mengenai Bursa Komponen 2006, di Gedung Departemen Perindustrian, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Selasa (10/10/2006).Berdasarkan data Kadin untuk proyeksi permintaan elektronik 2010 permintaan TV mencapai 9,3 juta set dengan nilai Rp 11,2 triliun.Refrigerator sebanyak 2,8 juta set senilai Rp 2,8 triliun, AC sebanyak 2,1 juta set senilai Rp 3,8 triliun dan mesin cuci sebanyak 2,2 jutaset senilai Rp 2,6 triliun.Menurut Heru, banyak merek Cina yang beredar di Indonesia untuk TV ada 45 brand di luar Electronic Marketer Club (EMC). Mesin cuci 24 brand, AC 18 brand, kulkas 15 brand. Sedangkan jumlah anggota EMC ada 34 merek yang mempunyai pabrik di Indonesia hanya 18 perusahaan.Sementara Ketua Umum Indonesia Mold & Dies Industry Association (IMDIA), Makoto Takahashi mengusulkan, perlunya dibangun mold and dies development center."Mold and dies di Indonesia tergantung impor, lokal sangat minim ada dua alasan skill engineering dan fasilitas yang tidak mencukupi membuat mold and dies di Indonesia," tambahnya. (ir/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads