SBY Ajak Investor AS Ikuti Crash Program
Kamis, 12 Okt 2006 13:48 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengajak kalangan pengusaha asal AS menanamkan modal dalam sektor energi. Khususnya dalam proyek percepatan pengadaan pembangkit listrik 10 ribu megawatt atau crash program."Proyek ini untuk mejaga kelangsungan suplai listrik. Hasilnya tidak hanya untuk industri tapi juga rumah tangga dan telekomunikasi," kata Presiden SBY. Ajakan di atas disampaikannya dalam pertemuan dengan US-ASEAN Business Council Mission to Indonesia di Istana Negara, Jakarta, Kamis (12/10/2006). Menteri-menteri yang hadir antara lain Meneg BUMN Sugiharto, Menteri ESDM Purnomo Yusgiantoro, Mendag Mari Elka Pangestu dan Menperin Fahmi Idris.Pihak pengusaha AS yang datang antara lain GE, Ford, Microsoft, Freeport, Exxon Mobile, Cargill, Chevron, Fedex, Coca-cola, Conoco Philips dan HM Sampoerna. Usai sambutan Kepala Negara, acara pagi ini dilanjutkan dengan tanya jawab. Sayangnya sesi tersebut tertutup bagi wartawan.Ditemui wartawan seusai pertemuan Matthew P. Daley, senior vice president Internasional Relation and Federal Government Affairs and Vice Chairman US Indonesia Business Council, mengungkapkan sebenarnya pengusaha AS amat berminat perluas investasinya di Indonesia. Mereka sangat terkesan dengan stabilitas politik keamanan yang berhasil diciptakan pemerintahan baru RI.Salah satunya Ford Motor yang berniat jadikan Indonesia sebagai basis produksi mobil mewah mereka untuk wilayah Asia. Sebagian besar hasil produksinya nanti ditujukan untuk pasar ekport.Sementara di sektor energi, GE bersiap untuk ajukan tawaran dalam bidang bio fuel. Fasilitas produksi yang mereka bangun itu sangat cocok untuk wilayah pedesaan di Indonesia.Menperin Fahmi Idris yang ditemui secara terpisah menyatakan, dalam dialog dengan Presiden, masalah yang kini jadi perhatian pengusaha AS adalah masalah kebijakan investasi. Mereka berharap ada kebijakan yang konsisten dari pusat sampai daerah."Atas keluhan ini, Presiden berjanji untuk menindaklanjutinya ke Kadin dan menteri terkait. Targetnya membuat iklim invetasi yang lebih baik lagi," ujarnya.
(lh/qom)











































