RI Targetkan Perdagangan dengan Cina US$ 30 M Tahun 2010
Minggu, 29 Okt 2006 15:10 WIB
Guilin - Kebangkitan ekonomi Cina akan dimanfaatkan benar-benar oleh pemerintah Indonesia. Pemerintah menargetkan volume perdagangan dengan Cina akan meningkat menjadi US$ 30 miliar per tahun pada tahun 2010. "Tahun 2005, volume perdagangan kita US$ 15 miliar. Dan sesuai arahan Presiden SBY, volume perdagangan akan meningkat menjadi US$ 30 miliar pada tahun 2010,"kata Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu kepada wartawan di Hotel Guilin Lijiang Waterfall, Guilin, Cina, Minggu (29/10/2006).Indonesia akan meningkatkan perdagangan dengan menjual barang-barang yang dibutuhkan Cina, seperti karet, palm oil, dan kayu. Selain itu, Indonesia juga akan menarik investasi Cina untuk berpartisipasi dalam berbagai hal, termasuk investasi dalam bidang produksi bahan-bahan mentah di Indonesia. "Dengan investasi seperti ini, kan bisa juga mengikatkan hubungan perdagangan," ujar dia seperti dilaporkan wartawan detikcom Arifin Asydhad yang mengikuti lawatan Presiden SBY ke Cina. Pemerintah juga telah berkoordinasi dengan Asmino (Asosiasi Mebel Indonesia) untuk meningkatkan pengolahan kayu menjadi barang jadi, seperti furnitur, dan mengeskpornya ke Cina. Dengan demikian, diharapkan Indonesia bisa mengekspor ke Cina, tidak hanya barang mentah, tapi juga barang jadi. Selain itu, pemerintah juga meningkatkan kerja sama dengan Cina dalam bidang energi. "Seperti kemarin, telah ditandatangani proyek energi hampir US$ 4miliar," jelas dia. Cina, Pesaing Sekaligus Mitra Menurut Mari, Cina merupakan pesain berat Indonesia dalam hal perdagangan. "Namun, selain sebagai pesaing, kita juga akan memanfaatkan Cina sebagai partner kita," ujar dia. Untuk bersaing dengan Cina, kata Mari, Indonesia cukup sulit, karena perdagangan Cina memang luar biasa. Barang yang diproduksi massal, seperti pakaian jadi, misalnya. Cina sudah memiliki market di berbagai dunia, termasuk di Amerika dan Eropa.
(asy/nrl)











































