Impor Beras Bulog Lebih Untung Lewat Jalur antar Pemerintah
Senin, 30 Okt 2006 14:57 WIB
Jakarta -
Impor beras yang dilakukan Badan Urusan Logistik (Bulog) tidak mungkin dilakukan melalui kontrak dengan para pedagang. Pengadaan beras dari luar negeri lebih menguntungkan dengan kerjasama antar pemerintah ketimbang membeli dari pedagang. "Pengalaman impor beras yang pernah dilakukan Bulog ternyata lebih untung dengan cara G to G karena harga lebih murah," kata Dirut Perum Bulog, Widjanarko Puspoyo.Hal itu disampaikan Widjanarko, disela-sela acara halal bihalal keluarga besar Perum Bulog, di Kantor Bulog, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Senin (30/10/2006).Namun demikian, mantan Wakil Ketua Komisi III DPR RI itu menilai, kontrak impor beras yang dilakukan pedagang bukan hal yang salah. Pasalnya, mereka melakukan dengan dana sendiri dengan mempertimbangkan kondisi panen padi tahun depan.Widjanarko menjelaskan hal ini, menanggapi pemberitaan media Vietnam, Tanhnien News dan Kantor Berita Cina, Xinhua, mengenai kepastian adanya kontrak impor beras untuk pengiriman pada kuartal I-2007.Dalam berita yang mengutip pernyataan pejabat Departemen Pertanian dan Pembangunan Desa Vietnam disebutkan, pedagang vietnam telah mendapat kontrak pada kuartal I-2007 sebanyak 250 ribu ton dari Indonesia dan 90 ribu ton dari Filipina.Widjanarko menganggap, adanya kontrak impor beras sebanyak 250 ribu ton yang dilakukan pedagang ataupun spekulan, merupakan langkah antisipasi mundurnya musim tanam padi 2006/2007 yang seharusnya mulai berlangsung Oktober ini. "Dengan mundurnya musim tanam, panen padi tahun depan juga akan mundur, sehingga kemungkinan akan terjadi kekosongan produksi selama lima bulan dari Novemberhingga Maret," tambahnya.Padahal menurut Widjanarko, konsumsi beras masyarakat setiap bulannya tetap yaitu sebanyak 2,5 juta ton. "Jika pada awal tahun nanti ada cadangan beras di masyarakat sekitar 6 juta ton, maka kita akan kekurangan beras pada tahun depan sebanyak 6,5 juta ton," jelasnya.Pemerintah menurut Widjanarko, harus segera mengantisipasi kondisi mundurnya musim tanam karena berakibat panen padi tahun depan juga ikut mundur."Seperti diperkirakan BMG, hujan baru berlangsung pada Desember mendatang, sehingga kemungkinan petani akan menanam pada awal tahun. Akibatnya panen kemungkinan baru akan terjadi pada April," paparnya
(ir/ir)










































