Bulog vs Tengkulak di Sumut
Kamis, 09 Nov 2006 11:23 WIB
Medan - Wilayah Sumatera Utara (Sumut) dikenal sebagai daerah surplus beras. Namun sayangnya, Bulog sering kalah set melawan tengkulak. Bahkan harga di pasar bisa didikte oleh tengkulak atau biasa disebut kilang itu.Selain itu, tengkulak itu sudah memiliki pasar dan sangat lihai merayu petani. Misalnya saja saat pemerintah mengumumkan rencana impor beras.Para tengkulak itu langsung terjun ke sawah-sawah dan menyampaikan niatnya membeli dengan harga rendah. Mereka memberi penjelasan kepada para petani bahwa dengan akan datangnya beras impor, maka harga beras petani akan jatuh. Karenanya, petani diimbau menjual sesegera mungkin berasnya kepada tengkulak. Padahal para tengkulak itu nantinya menjual ke pasar dengan harga yang tetap tinggi.Sehinggga ketika Bulog datang untuk membeli beras, para petani sudah tidak punya stok. Kalaupun ada, para petani akan menjual dengan harga tinggi karena merasa permintaan sedang tinggi.Hal tersebut dikeluhkan oleh Kadivre Bulog Sumut Budi Waluyo kepada wartawan saat ditemui di gedung Bulog Medan, Kamis (9/11/2006)."Tengkulak berani menimbun karena punya pasar dimana pasar perkebunan sudah dikuasai seperti BUMN perkebunan disini, jadi mereka yang diuntungkan dengan impor ini," ungkap Budi.Menurut Budi, masalah tengkulak yang sudah berlangsung bertahun-tahun ini seharusnya bisa dselesaikan secara sinergi antara BUMN bersama kepala daerah.Budi menambahkan, praktek tengkulak ini tak hanya merugikan Bulog, namun juga petani itu sendiri. "Harga beras lokal tetap tinggi, jadi petani jual dengan harga murah tapi ketika mereka ingin beli dengan harga yang tinggi," jelasnya.Dalam kesempatan tersebut, Budi juga menjamin beras impor tak akan masuk pasar. "Kedatangan beras impor semua melotot ikut mengawasi, dengan begini saya yakin tak ada satupun beras impor yang keluar dari gudang bulog, cek saja gudang-gudang bulog," cetusnya.Kapal Cabot OrientBudi juga mengklarifikasi adanya kabar tentang terhambatnya proses bongkar muat beras dari kapal Cabot Orient. Ia menjelaskan, kapal Cabot Orient datang pada tanggal 3 November pukul 14.00 WIB dengan membawa 3600 ton asal Vietnam. "(kapal) itu tidak alami kendala pembongkaran, dari admin belawan, bea cukai dan karantina tumbuhan," jelas Budi. Menurut Budi, proses bongkar muat memang memakan waktu satu jam untuk mengecek apakah beras yangdibawa tidak membawa penyakit tumbuhan. Beras itu harus melalui karantina tumbuhan oleh Departemen pertanian. Dan hasilnya, beras-beras tersebut dinyatakan lulus tes."Saya heran darimana datang beritanya, karena kami sama sekali tidak dikonfirmasi," keluhnya."Yang pasti Senin kemarin kapal Cabot Orient sudah kembali ke Vietnam, karena sudah selesai pembongkaran," tambahnya.
(arn/qom)











































