Harga Listrik Panas Bumi Dinilai Terlalu Murah
Senin, 13 Nov 2006 14:34 WIB
Jakarta - Kalangan investor menilai harga dasar listrik panas bumi yang sekarang ini berada di bawah 5 sen dolar AS per kWh sudah tidak ekonomis lagi.Hal tersebut disampaikan oleh Direktur Hulu PT Pertamina (Persero) Sukusen Soemarinda dalam seminar panas bumi di Departemen ESDM, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta, Senin (13/11/2006).Sukusen mengatakan, harga listrik panas bumi yang ekonomis saat ini adalah sekitar tujuh sen dolar AS per kWh. "Harga dasar listrik panas bumi yang rendah menyebabkan berkurangnya minat investor khususnya asing dalam melakukan investasi di sektor ini," katanya.Padahal, sejumlah investor telah menyatakan minatnya mengembangkan panas bumi ke Ditjen Mineral, Batubara, dan Panas Bumi Departemen ESDM. Investor tersebut antara lain berasal dari Italia, Filipina, Australia, dan Swedia.Menurut Sukusen, harga listrik panas bumi yang hanya 5 sen dolar per kWh dinilai belum dapat menghasilkan tingkat pengembalian yang layak mengingat biaya investasi pengembangan panas bumi yang tinggi.Total biaya pembangunan pembangkit panas bumi diperkirakan mencapai US$ 1,3 juta per MW dengan biaya di hulunya mencapai US$ 1 per MW.Sementara, harga pembangkit jenis lain seperti yang berbahan bakar batubara hanya mencapai US$ 700-800 ribu per MW atau gas yang US$ 1 juta per MW."Biaya pemborannya saja sekarang ini naik 30 persen akibat kenaikan harga minyak dunia," kata Sukusen.Apalagi, lanjutnya, jika dibandingkan harga dasar listrik dari pembangkit berbahan bakar minyak yang mencapai di atas 14 sen dolar per kWh, maka harga listrik panas bumi yang tujuh sen dolar per AS termasuk murah.Sukusen menambahkan, pengembangan panas bumi juga memerlukan insentif perpajakan seperti pembebasan pajak bumi dan bangunan (PBB) dan retribusi daerah, pengurangan pajak penghasilan (PPh), keringanan pajak pertambahan nilai (PPN), dan pembebasan pajak dalam rangka impor (PDRI).Pertamina saat ini memiliki PLTP Kamojang 140 MW, Lahendong 20 MW, dan Sibayak dua MW. Serta yang dikerjasamakan dengan perusahaan lain yakni PLTP Salak 330 MW, Darajat 145 MW, Wayang Windu 110 MW, dan Dieng 60 MW.Pemerintah menargetkan dapat membangun pembangkit panas bumi hingga berkapasitas 2.000 MW pada 2008 dan tahun 2025 menjadi 9.000 MW.Dalam dua-tiga tahun ke depan, kapasitas pembangkit panas bumi akan bertambah menjadi 1.300 MW dengan dari PLTP Wayang Windu, Darajat, Kamojang, Lahendong, dan Sarulla.
(mar/qom)











































