Realisasi PMA-PMDN Turun

Januari-Oktober 2006

Realisasi PMA-PMDN Turun

- detikFinance
Selasa, 14 Nov 2006 17:13 WIB
Jakarta - Realisasi Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) dan Penanaman Modal Asing (PMA) selama Januari hingga Oktober 2006 turun. Bahkan untuk PMA, penurunannya hampir mencapai 50 persen.Untuk realisasi investasi PMDN periode Januari hingga Oktober 2006 mencapai 128 proyek dengan nilai Rp 13,535 triliun. Angka ini lebih rendah dibanding tahun lalu yang mencapai Rp 16,635 triliun untuk 178 proyek. Demikian data dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) yang diterima detikcom, Selasa (14/11/2006).Realisasi investasi yang menonjol berdasarkan sektor adalah industri logam, mesin dan elektronika Rp 3,212 triliun (19 proyek), industri makanan Rp 2,601 triliun (16 proyek), industri tanaman pangan dan perkebunan Rp 2,022 triliun (12 proyek).Berdasarkan lokasi, terbanyak berada di Banten Rp 3,787 triliun (18 proyek), DKI Jakarta Rp 2,974 triliun (24 proyek), Riau Rp 2,421 triliun (8 proyek), Kalteng Rp 774,1 miliar (3 proyek), Kalsel Rp 681,7 miliar (6 proyek).Tenaga kerja yang berhasil diserap mencapai 54.925 orang, yang berarti turun dibandingkan periode yang sama pada tahun lalu yang mencapai 93.085 orang. Realisasi PMASedangkan realisasi PMA untuk periode Januari-September sebanyak 770 proyek dengan nilai investasi US$ 4,48 miliar. Angka itu turun dibandingkan periode yang sama pada tahun 2005 yang mencatat investasi US$ 8,552 miliar yang terdiri dari 785 proyek.Tenaga kerja yang diserap 191.473 orang, yang meningkat dibandingkan pada tahun lalu sebanyak 133.011 orang. Investasi yang menonjol adalah di sektor industri logam, mesin dan elektronika US$ 873,1 juta (77 proyek), industri kertas dan percetakan US$ 439,5 juta (12 proyek), industri kendaraan bermotor dan alat transportasi lain US$ 424,8 juta (24 proyek).Investasi PMA paling banyak di Jawa Barat sebesar US$ 1,490 miliar (179 proyek), DKI Jakarta US$ 614,1 juta (296 proyek), Banten US$ 481,5 miliar (78 proyek), Kaltim US$ 400,6 juta (US$ 5 proyek), dan Jateng US$ 370,1 juta (37 proyek). (qom/nrl)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads