Cina 'Obral' Harga Proyek PLTU

Cina 'Obral' Harga Proyek PLTU

- detikFinance
Rabu, 15 Nov 2006 17:19 WIB
Jakarta - Sejumlah perusahaan Cina menawarkan harga murah untuk pembangunan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 10 ribu MW. Bersaing dengan perusahaan Jepang, Marubeni, sejumlah perusahaan Cina 'obral' untuk proyek PLTU Paiton dan PLTU Suralaya dengan kapasitas masing-masing 600 MW.Hal itu terungkap saat pembukaan dokumen penawaran PLTU Suralaya dan PLTU Paiton di Kantor Pusat PLN Jalan Trunojoyo, Jakarta, Rabu (15/11/2006).Untuk proyek PLTU Paiton, konsorsium Chengda Coorporation menawarkan sebesar Rp 1.390.872.300.947 atau US$ 273.158.076. Jika dibagi per MW-nya nilai proyek sebesar US$ 424.000 per MW.Harbin Power menawarkan sebesar US$ 422.992.519 atau Rp 910.869.659.286 dan jika dibagi per MW-nya sebesar US$ 707.000.Marubeni Corp menawarkan sebesar US$ 728.154.977 dengan memberikan diskon sebesar US$ 85.154.977 sehingga menjadi US$ 643.000.000. Sedangkan nilai per MW sekitar US$ 918.571 per MW.Lalu China Huadian memberikan penawaran sebesar US$ 363.550.000 atau Rp 1.296.580.000.000. Jika dibagi per MW-nya sebesar US$ 504.521.Sedangkan Shanghai Electrical sebesar US$ 543.752,193 sedangkan per MW-nya sebesar US$ 906.253 per MW.Untuk PLTU Suralaya dengan kapasitas 600 MW konsorsium CNTIC menawarkan sebesar Rp 874.087.622.700 atau US$ 377,946,411 atau sekitar US$ 772.000 per MW.Lalu konsorsium Marubeni menawarkan sebesar US$ 704.100.421 dan memberikan diskon US$ 81.100.421 sehingga menjadi US$ 623.000.000. Jika dibagi per MW-nya sebesar US$ 890.000 per MW.Konsorsium Dongfang menawarkan sebesar US$ 364.688.162 atau Rp 100.915.421.000. Jika dibagi per MW sebesar US$ 772.000 per MW.Sedangkan konsorsium Shanghai Maxima menawarkan sebesar US$ 493.859.140, per MW-nya sebesar US$ 823.333.Ketua Panitia Lelang Chairuddin Matondang usai pembukaan dokumen mengatakan, PLN akan mengevaluasi dokumen penawaran selama seminggu ini. "Penawar terendah belum tentu jadi pemenang," ujarnya."Masih ada aspek lain yang akan dievaluasi seperti performance pembangkit, biaya financing, tingkat bunga dan kursnya," katanya. (mar/qom)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads