Kadin Sayangkan Respons Perbankan
Kamis, 16 Nov 2006 16:14 WIB
Jakarta - Pemerintah sudah memberikan rangsangan berupa insentif pajak yang tertuang dalam PP 148 tahun 2000. Namun rangsangan itu takkan berarti tanpa bantuan dari perbankan.Padahal perbankan sendiri saat ini dianggap mandul dalam memberikan kredit. Dengan demikian sejumlah insentif yang diberikan dalam rangka implementasi PP 148 tahun 2000 terasa tidak berarti.Kritikan tersebut disampaikan oleh Ketua Kadin MS Hidayat dalam konferensi pers di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (16/11/2006).Hidayat merasa perbankan saat ini tidak menjalankan fungsi intermediasinya yakni dengan memberikan kredit ke sektor riil. "Jadi selama ini keuntungan perbankan dalam 4 tahun belakangan hanya didapat dari dana di SBI atau obligasi. Mereka hanya hidup dari selisih bunga. Ini tidak sehat," kritiknya.Ia menuding hal itu disebabkan karena BI tidak optimal dalam melakukan fungsi pengawasan perbankan. "BI-nya yang loyo. Kemarin kita gebrak BI. Tapi tidak berarti mengundang instansi lain untuk turut campur. Saya sudah komplain ke Gubernur BI agar dia tegas," ungkapnya. Menurut Hidayat, sudah tidak jamannya lagi bank hanya hidup dari pendapatan bunga SBI tanpa menyalurkan kredit. "Kalau hanya hidup dari selisih bunga, anak kecil juga bisa," cetusnya.Namun Hidayat mengakui bahwa perbankan menghadapi trauma masa lalu sehingga mereka tidak optimal dalam memberikan kredit. Perbankan trauma akan banyaknya kredit macet yang mengharuskan mereka menjadi 'tamu' di Kejagung.
(qom/ir)











































