Pedagang Pasar Tolak 7-Eleven
Jumat, 17 Nov 2006 11:11 WIB
Jakarta - Pedagang kecil yang tergabung dalam Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI) akan melakukan perlawanan jika pemerintah membolehkan peritel asal Jepang, 7-Eleven, masuk.7-Eleven merupakan peritel yang menyerupai Circle K, Indomaret ataupun Alfamart. Masuknya 7-Eleven dikhawatirkan akan mengganggu pangsa pasar warung-warung berskala kecil. Apalagi 7-Eleven dikenal sangat ekspansif."Ini upaya untuk memarginalkan pengusaha kecil. Isu 7-Eleven mau masuk saya sudah dengar. APPSI akan melakukan koalisi bersama asosiasi lain, LSM dan perguruan tinggi untuk menolak kehadiran mereka," kata Ketua APPSI DKI Jakarta, Hasan Basri, ketika dihubungi detikcom, Jumat (17/11/2006).Beroperasinya peritel raksasa seperti Carrefour dan Giant saja, menurut Hasan, sudah bikin pusing. Apalagi peritel kecil yang akan berhadap-hadapan langsung bisa mematikan usaha karena produk yang dijual sama dengan pedagang kecil.Saat ini saja di DKI Jakarta, dari 151 pasar tradisional 9 pasar sudah tutup. Sedangkan sisanya 142 pasar, sebanyak 30 persen dalam kondisi hidup segan mati tak mau.Hasan menilai, pemerintah membuat kebijakan ganda dengan membolehkan peritel asing masuk. Satu sisi ingin memberdayakan ekonomi masyarakat kecil tapi di lain pihak justru kebijakannya memarginalkan masyarakat kecil."Tampaknya kalau 7-Eleven masuk itu keputusan politik dan itu tidak boleh terjadi. Seharusnya pemerintah memikirkan kepentingan orang kecil," tukas Hasan. 7-Eleven, ungkap Hasan, bisa saja beroperasi di Indonesia asal diberi syarat khusus tidak menjual produk yang sama dengan pedagang. "Kalau mereka menjual hanya produk Jepang kita bisa bersaing sehat karena yang bisa beli masyarakat menengah atas yang tidak harus belanja ke Singapura atau Jepang," tutur Hasan.Pemerintah sendiri saat ini belum memberi keputusan kepada 7-Eleven. Investasi 7-Eleven ke pasar ritel Indonesia kemungkinan akan terganjal aturan Menteri Perdagangan tentang waralaba No 12 tahun 2006 yang tidak memperbolehkan adanya investasi asing langsung.
(ir/nrl)











































