Hindari Dilusi Kuota IMF, RI Ajukan Formula Baru

Hindari Dilusi Kuota IMF, RI Ajukan Formula Baru

- detikFinance
Senin, 20 Nov 2006 15:14 WIB
Jakarta - Indonesia akan mengajukan formula baru perhitungan kuota keanggotaannya di Dana Moneter Internasional (IMF) dalam world meeting IMF di Washington pada 2009.Tujuannya, untuk menghindari terdilusinya kuota yang dapat menjadikan Indonesia kehilangan suara di IMF."Jadi pada 2009 nanti waktu IMF sidang di Washington itu akan diputuskan formula seperti apa dan kita akan bertahan pada formula kita itu," kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Burhanuddin Abdullah, seusai Raker dengan komisi XI DPR RI di Gedung DPR/MPR, Senayan, Jakarta, Senin (20/11/2006).Dijelaskan Burhanuddin, bahwa sejak tahun 1970 hingga 1990 Indonesia memiliki kuota terbesar yakni 50 persen untuk kawasan Asia Tenggara. Dengan posisi tersebut, jabatan Eksekutif Direktur IMF selalu dipimpin oleh orang Indonesia. Namun kini, Malaysia dan Thailand semakin besar peluangnya untuk menjabat Eksekutif Direktur IMF tersebut.Sedangkan Indonesia saat ini sudah tidak menjabat posisi Eksekutif Direktur IMF lagi.Rencana IMF yang akan melakukan review untuk meningkatkan kuota empat negara yakni, Cina, Turki, Korea, dan Meksiko juga akan semakin memperkecil kuota Indonesia di IMF."Karena kuota kecil, pos kita sebagai Eksekutif Direktur akan terdilusi. Suara kita akan semakin tidak didengar, kita akan semakin kecil, tidak didengar maka semakin diabaikan, itu karena kita sebagai pemegang saham yang kecil," papar Burhanuddin.Menurut Burhanuddin, dalam kesempatan bertemu dengan Gubernur Bank Sentral AS Ben Bernanke, beberapa waktu lalu di Australia, pihaknya telah mengusulkan untuk memasukkan formula perhitungan kuota dengan menambahkan kriteria GDP, kestabilan nilai tukar dan keterbukaan ekonomi."Kalau kriteria tidak memperhitungkan kriteria nilai tukar, GDP serta keterbukaan ekonomi, maka kita akan terdilusi," ucapnya.Namun untuk keterbukaan ekonomi, menurut Burhanuddin, memang posisi Indonesia akan menjadi sangat rentan terhadap gejolak ekonomi dunia. Keterbukaan ekonomi ini diminta oleh Amerika Serikat dan negara maju."Saya ketemu Bernanke, saya sampaikan bahwa anda harus mendukung posisi Indonesia dari sisi size ekonominya dan keterbukaan ekonomi. Kita melaksanakan itu sejak 1982, jadi saya kira tuntutan ini sangat beralasan," tuturnya.Saat ini interm of absolut Indonesia di IMF masih sebesar SDR 2 miliar. Dengan nilai tersebut kuota Indonesia tidak lagi sebesar 50 persen kuota untuk Asia Tenggara, namun sudah lebih kecil lagi."Kalau interm of absolut kita masih SDR 2 miliar dan secara relatif kita yang berubah, kalau dulu 2 miliar itu 50 persen sekarang itu lebih rendah kuotanya," ungkap Burhanuddin. (hdi/ir)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads